30 Juni 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Ketika rasa cemas, khawatir, dan stres semakin menumpuk, sebagian orang mencari cara instan untuk merasa lebih baik. Salah satu bentuk pelarian yang kini semakin banyak dibahas adalah doom spending.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga mulai banyak ditemukan di kalangan masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang aktif menggunakan media sosial dan platform belanja online.
Lalu, apa sebenarnya doom spending dan mengapa perilaku ini perlu diwaspadai? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Secara sederhana, doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara impulsif sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap masa depan.
Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu doom yang berarti kehancuran atau malapetaka, dan spending yang berarti pengeluaran atau belanja.
Dalam konteks psikologi keuangan, doom spending menggambarkan perilaku seseorang yang membeli barang atau layanan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk memperoleh rasa nyaman sesaat ketika menghadapi tekanan emosional.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan kebiasaan doomscrolling, yaitu aktivitas terus-menerus membaca berita negatif di internet. Setelah merasa lelah dan tertekan akibat informasi yang dikonsumsi, seseorang kemudian mencari "hadiah" untuk dirinya sendiri berdalih self-reward melalui aktivitas berbelanja.
Sekilas perilaku ini terlihat tidak berbahaya. Namun jika dilakukan berulang kali tanpa kontrol, doom spending dapat mengganggu kondisi keuangan dan menimbulkan masalah jangka panjang.
Doom spending tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami perilaku ini, yaitu:
Banyak orang merasa target keuangan seperti membeli rumah, memiliki investasi besar, atau mencapai kebebasan finansial semakin sulit diwujudkan. Harga properti yang terus meningkat, biaya hidup yang naik, serta ketidakpastian ekonomi membuat sebagian orang kehilangan motivasi untuk menabung.
Akibatnya, mereka memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini daripada menyimpannya untuk masa depan yang dianggap tidak pasti.
Media sosial dan internet memungkinkan seseorang menerima informasi selama 24 jam tanpa henti. Berita mengenai perang, krisis ekonomi, PHK massal, hingga bencana alam dapat memicu kecemasan yang terus-menerus.
Nah, dalam kondisi tersebut, aktivitas berbelanja sering dianggap sebagai cara tercepat untuk mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu.
Ketika seseorang membeli barang yang diinginkan, otak akan melepaskan dopamin yang memunculkan perasaan senang.
Sensasi inilah yang membuat banyak orang merasa lebih baik setelah berbelanja. Sayangnya, efek tersebut hanya berlangsung sementara. Setelah rasa senang menghilang, kecemasan biasanya kembali muncul dan memicu keinginan untuk berbelanja lagi.
Media sosial sering menampilkan gaya hidup yang terlihat sempurna. Mulai dari liburan mewah, gadget terbaru, hingga koleksi barang bermerek.
Kondisi ini dapat memicu Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal dari orang lain. Akibatnya, seseorang terdorong membeli berbagai barang demi mengikuti tren dan mendapatkan validasi sosial.
Tidak semua aktivitas belanja termasuk doom spending. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
Sering berbelanja saat sedang stres atau sedih.
Membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Merasa menyesal setelah transaksi selesai.
Kesulitan mengingat total pengeluaran bulanan.
Menggunakan paylater atau kartu kredit untuk memenuhi keinginan konsumtif.
Tetap berbelanja meskipun kondisi keuangan sedang tidak stabil.
Jika beberapa tanda tersebut mulai sering terjadi, ada baiknya melakukan evaluasi terhadap pola pengeluaran pribadi.
Meskipun terlihat sepele, doom spending dapat menimbulkan berbagai dampak negatif jika terus dibiarkan. Berikut ini diantaranya:
Pengeluaran yang tidak direncanakan akan mengganggu anggaran bulanan. Dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting atau tabungan justru habis untuk pembelian impulsif.
Salah satu tujuan keuangan yang sering terabaikan akibat doom spending adalah dana darurat. Padahal, dana ini sangat penting untuk menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis mendesak.
Banyak orang menggunakan fasilitas kredit, paylater, atau pinjaman online untuk memenuhi keinginan belanja. Jika tidak dikelola dengan baik, utang konsumtif dapat menumpuk dan menjadi beban finansial yang berat.
Setelah euforia berbelanja berakhir, sering kali muncul rasa menyesal karena telah menghabiskan uang secara berlebihan.
Kondisi ini menciptakan siklus yang tidak sehat. Seseorang merasa cemas, lalu berbelanja untuk menghibur diri, kemudian merasa bersalah setelahnya. Akibatnya, tingkat stres justru semakin meningkat.
Doom spending membuat seseorang lebih fokus pada kepuasan sesaat dibandingkan tujuan jangka panjang. Akibatnya, rencana seperti membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan, atau berinvestasi menjadi semakin sulit diwujudkan.
Kabar baiknya, doom spending dapat dicegah dan dikendalikan dengan beberapa langkah sederhana berikut:
Saat menemukan barang yang diinginkan, masukkan terlebih dahulu ke keranjang belanja dan tunggu minimal 24 jam sebelum melakukan pembayaran. Metode ini membantu memberikan jeda emosional sehingga keputusan pembelian lebih rasional.
Tetap mengikuti perkembangan informasi memang penting, tetapi hindari mengonsumsi berita negatif secara berlebihan. Tentukan waktu khusus untuk membaca berita dan kurangi kebiasaan doomscrolling yang dapat memicu kecemasan.
Tidak ada salahnya memberikan penghargaan untuk diri sendiri. Namun, pastikan jumlahnya sudah direncanakan dalam anggaran bulanan. Dengan cara ini, Anda tetap bisa menikmati hasil kerja keras tanpa mengganggu kondisi keuangan.
Alihkan perhatian dari aktivitas belanja dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti olahraga, membaca buku, berkebun, atau berkumpul bersama keluarga dan sahabat. Aktivitas tersebut dapat membantu mengurangi stres tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Tujuan finansial yang konkret akan membantu Anda lebih disiplin dalam mengelola pengeluaran. Mulailah dengan target sederhana seperti membangun dana darurat, menabung untuk liburan, atau menyiapkan dana ibadah dan pendidikan keluarga.
Doom spending menunjukkan bahwa kondisi psikologis dan kesehatan finansial saling berkaitan. Oleh karena itu, penting untuk membangun kebiasaan belanja yang lebih sadar, terencana, dan sesuai kebutuhan agar kondisi keuangan tetap sehat dalam jangka panjang.
Jangan sampai rasa cemas terhadap kondisi ekonomi atau ketidakpastian masa depan justru membuat Anda kehilangan kendali atas keuangan. Sebaliknya, jadikan setiap keputusan finansial sebagai langkah untuk mendekatkan diri pada tujuan keuangan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kebiasaan mengelola pengeluaran secara disiplin, menyiapkan dana darurat, serta merencanakan kebutuhan jangka panjang sejak dini.
Dengan perencanaan yang tepat, Anda dapat lebih tenang menghadapi berbagai tantangan finansial tanpa harus terjebak dalam perilaku belanja impulsif.
Untuk mendukung kebutuhan perencaan finansial, Anda bisa menyimpan dana tabungan di produk Tabungan Berkah Rencana iB. Jangka waktu simpanannya fleksibel mulai dari 6 bulan sampai 18 tahun.
Produk simpanan syariah ini menerapkan prinsip akad mudharabah mutlaqah dan sudah dilengkapi dengan manfaat asuransi jiwa. Kemudian, sebagian dana tabungan Anda bisa disimpan ke produk deposito di Bank Mega Syariah. Jangka waktu depositonya mulai dari 1 bulan sampai 12 bulan.
Setoran awal Deposito Plus iB mulai dari Rp5 juta. Namun bila dananya belum cukup tak perlu khawatir. Sebab ada produk Deposito Berkah Digital dengan setoran awal ringan mulai dari Rp1 juta.
Setiap produk simpanan tabungan dan investasi dari Bank Mega Syariah telah terjamin mengikuti seluruh cara bermuamalah menurut Islam. Belum lagi persentase nisbah bagi hasil yang kompetitif mengikuti profit distribution bank setiap bulannya.
Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa mengirim e-mail ke customer care Bank Mega Syariah di customercare@megasyariah.co.id atau Mega Syariah Call di nomor 021 - 2985 2222.
Yuk, mulai bangun kebiasaan finansial yang lebih sehat dan terencana dari sekarang agar tujuan keuangan di masa depan dapat tercapai dengan lebih optimal dan penuh keberkahan.
Bagikan Berita