11 Februari 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Masalah sampah bukan lagi isu kecil yang bisa diabaikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa penyumbang sampah terbesar di Indonesia justru berasal dari rumah tangga, dengan persentase sekitar 38–40 persen dari total timbulan sampah nasional. Artinya, kebiasaan kita sehari-hari di rumah memiliki dampak besar terhadap kondisi lingkungan.
Ironisnya, banyak sampah rumah tangga masih dibuang dalam kondisi tercampur. Ketika sisa makanan bercampur dengan plastik dalam satu kantong, sampah tersebut akan membusuk tanpa oksigen di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana. Gas ini memiliki dampak pemanasan global 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu? Tenang, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Yuk, simak cara mengatasi sampah rumah tangga berikut ini agar lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai panduan, berikut ini beberapa cara mengolah sampah rumah tangga yang bisa Anda praktikan di rumah:
Langkah paling mendasar dalam mengatasi sampah rumah tangga adalah memilahnya sejak dari sumber. Jangan lagi mencampur semua jenis sampah dalam satu tempat. Sediakan minimal tiga hingga empat wadah berbeda agar proses pengolahan lebih mudah.
Kategori dasar pemilahan sampah meliputi organik, anorganik, B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), serta residu. Dengan pemilahan yang tepat, beban TPA dapat berkurang secara signifikan.
Sampah organik seperti sisa nasi, kulit buah, sayuran, tulang, dan daun kering mudah terurai secara alami. Jenis sampah ini sebaiknya tidak langsung dibuang karena masih bisa diolah menjadi kompos atau produk ramah lingkungan lainnya.
Jika dikelola dengan benar, sampah organik justru menjadi sumber daya yang bermanfaat untuk tanaman dan kebun rumah.
Metode kompos Takakura sangat cocok untuk rumah di perkotaan atau lahan sempit. Teknik ini menggunakan keranjang berlubang yang diisi sekam dan mikroorganisme starter untuk membantu proses penguraian.
Keunggulannya, metode ini relatif tidak menimbulkan bau jika dilakukan dengan benar. Hasil komposnya dapat digunakan sebagai pupuk tanaman hias atau sayuran di rumah.
Jika Anda memiliki halaman tanah, membuat lubang biopori bisa menjadi solusi praktis. Lubang silindris sedalam kurang lebih satu meter dapat diisi sisa makanan secara bertahap.
Selain menghasilkan kompos alami, biopori juga membantu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi risiko genangan dan banjir.
Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi kulit buah segar, gula merah atau molase, dan air dengan perbandingan 3💯1. Proses fermentasinya berlangsung sekitar tiga bulan.
Cairan ini dapat digunakan sebagai pembersih lantai alami, pupuk cair, hingga membantu menjernihkan saluran air. Cara ini tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga menghemat pengeluaran rumah tangga.
Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kaleng, kaca, dan kertas memang sulit terurai. Namun, jenis sampah ini memiliki nilai ekonomi jika dalam kondisi bersih dan kering.
Pastikan Anda mencuci dan mengeringkan kemasan sebelum disetorkan ke bank sampah atau pengepul. Dengan begitu, sampah tidak berakhir mencemari laut atau tanah.
Cara mengatasi sampah rumah tangga berikutnya adalah berani menolak barang yang tidak diperlukan. Misalnya, menolak kantong plastik tambahan saat berbelanja atau menolak sedotan sekali pakai.
Semakin sedikit barang sekali pakai yang kita terima, semakin sedikit pula sampah yang harus dikelola di rumah.
Kurangi penggunaan produk sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari. Anda bisa mulai dengan membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja kain, atau memilih produk isi ulang.
Kebiasaan sederhana ini efektif menekan volume sampah plastik rumah tangga.
Banyak barang bekas yang sebenarnya masih layak digunakan. Wadah kaca bekas selai dapat dimanfaatkan sebagai tempat bumbu, sedangkan kantong belanja kain bisa dipakai berulang kali.
Dengan menggunakan kembali barang yang ada, Anda turut memperpanjang usia pakainya sebelum benar-benar menjadi sampah.
Repurpose berarti mengubah fungsi barang agar tetap bermanfaat. Pakaian lama yang sudah tidak layak pakai bisa dijadikan lap pel atau keset.
Langkah ini membantu mengurangi jumlah barang yang langsung dibuang ke tempat sampah.
Daur ulang adalah tahap akhir setelah menolak, mengurangi, dan menggunakan kembali. Pastikan sampah anorganik sudah bersih dan tidak bercampur sisa makanan sebelum dikirim ke fasilitas daur ulang.
Dengan proses yang benar, material seperti plastik, kertas, dan logam dapat diproses kembali menjadi produk baru yang bermanfaat.
Minyak jelantah sering kali dibuang ke wastafel, padahal satu liter minyak dapat mencemari hingga 1.000 liter air tanah dan menyumbat saluran pembuangan.
Solusinya sederhana. Dinginkan minyak, saring kotorannya, lalu simpan dalam botol tertutup. Setelah terkumpul, serahkan ke pengumpul jelantah untuk diolah menjadi biodiesel. Selain ramah lingkungan, beberapa lembaga bahkan memberikan insentif ekonomi.
Mengatasi sampah rumah tangga bukan berarti kita harus langsung mencapai gaya hidup nol sampah secara total. Zero waste adalah tentang kesadaran dan konsistensi untuk terus mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA setiap hari.
Memilah sampah, mengompos, dan mengurangi konsumsi plastik adalah langkah nyata yang bisa dimulai dari rumah. Ketika satu keluarga berubah, dampaknya bisa meluas ke lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, bumi yang lebih bersih adalah warisan untuk generasi mendatang.
Yuk, mulai hari ini dengan langkah kecil yang konsisten. Karena perubahan besar selalu dimulai dari rumah kita sendiri.
Bagikan Berita