30 Januari 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Salat malam adalah salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam. Banyak umat Muslim ingin mengamalkannya, tetapi masih merasa bingung mengenai urutan salat malam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Padahal, memahami urutan yang benar akan membantu ibadah menjadi lebih tertib, khusyuk, dan bernilai maksimal di sisi Allah SWT.
Secara umum, salat malam dikenal dengan istilah qiyamul lail, yaitu salat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah salat Isya hingga terbit fajar. Jika pelaksanaannya dilakukan setelah bangun tidur, maka salat tersebut secara khusus disebut sebagai salat tahajud.
Yuk, ketahui penjelasan lengkap mengenai waktu, persiapan, hingga urutan pelaksanaan salat malam yang dianjurkan.
Salat malam adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, salat malam juga melatih keikhlasan dan kesungguhan dalam beribadah, karena dilakukan saat kebanyakan manusia terlelap.
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Ayat ini menegaskan bahwa salat malam memiliki kedudukan istimewa dan menjadi sebab diangkatnya derajat seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Salat malam dapat dikerjakan sejak selesai salat Isya hingga menjelang Subuh. Namun, waktu malam terbagi menjadi tiga bagian dengan tingkat keutamaan yang berbeda, yaitu:
Sepertiga malam pertama, yaitu sejak setelah Isya hingga sekitar pukul 22.00. Waktu ini sudah termasuk qiyamul lail, meskipun keutamaannya belum maksimal.
Sepertiga malam kedua, sekitar pukul 22.00 hingga 01.00. Pada waktu ini, suasana malam sudah lebih tenang dan cocok untuk memperpanjang ibadah.
Sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga menjelang Subuh. Inilah waktu paling utama untuk salat malam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis tentang turunnya Allah SWT ke langit dunia (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).
Sebelum memulai urutan salat malam, terdapat beberapa adab dan sunnah yang sebaiknya dilakukan. Pertama, berniat untuk bangun malam sebelum tidur. Niat ini sudah bernilai pahala, meskipun seseorang tertidur hingga Subuh karena kelelahan.
Saat terbangun, disunnahkan untuk duduk sejenak dan mengusap wajah guna menghilangkan rasa kantuk. Rasulullah SAW juga membiasakan diri bersiwak atau membersihkan mulut ketika bangun malam.
Selain itu, membaca sepuluh ayat terakhir surah Ali Imran (ayat 190–200) juga termasuk sunnah yang sering dilakukan Nabi ketika memandang langit malam.
Lalu, seperti apa urutan salat malam yang dianjurkan? Berikut ini penjelasannya:
Urutan salat malam dimulai dengan dua rakaat ringan sebagai pembuka. Rasulullah SAW tidak langsung melaksanakan salat panjang, tetapi mengawali dengan salat yang singkat agar tubuh dan pikiran lebih siap untuk ibadah inti.
Hal ini berdasarkan hadis sebagai berikut:
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun malam, hendaklah ia membuka salatnya dengan dua rakaat yang ringan.” (HR. Muslim no. 768)
Pada salat ini, cukup membaca Al-Fatihah dan surat pendek atau bahkan hanya Al-Fatihah saja.
Setelah salat pembuka, dilanjutkan dengan salat tahajud sebagai inti dari salat malam. Salat tahajud dikerjakan dua rakaat salam dan dapat diulang sesuai kemampuan, tanpa batas maksimal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat.” (HR. Bukhari no. 990)
Dalam salat tahajud, disunnahkan membaca ayat-ayat Alquran dengan tartil dan penuh penghayatan. Jika mampu, bacaan boleh dipanjangkan. Selain itu, memperlama sujud juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dan munajat kepada Allah SWT.
Di sela-sela tahajud, seorang Muslim boleh menambahkan salat sunnah lain sesuai kebutuhan. Misalnya, salat taubat bagi yang ingin memohon ampunan, salat hajat untuk menyampaikan permohonan khusus, atau salat tasbih jika memiliki waktu yang cukup panjang.
Salat-salat ini bersifat opsional, tetapi dapat menambah kualitas ibadah malam jika dilakukan dengan niat yang tulus.
Urutan salat malam harus ditutup dengan salat witir. Rasulullah SAW bersabda:
“Jadikanlah akhir salat malam kalian adalah salat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salat witir dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil, minimal satu rakaat dan paling sedikit tiga rakaat untuk kesempurnaan. Format yang umum digunakan adalah dua rakaat salam, kemudian satu rakaat salam.
Bacaan surat yang dianjurkan dalam salat witir adalah:
Rakaat pertama: Al-A’la
Rakaat kedua: Al-Kafirun
Rakaat ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
(HR. Abu Daud no. 1423)
Salat malam juga dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW memiliki doa iftitah khusus yang dibaca saat qiyamul lail, serta doa panjang yang dibaca setelah salat tahajud sebelum witir.
Berikut ini doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW yang dibaca setelah tahajud:
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
Allahumma lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, wa lakal hamdu anta qayyimus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, wa lakal hamdu anta rabbus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, antal haqqu, wa wa’dukal haqqu, wa qauluka haqqu, wa liqaa’uka haqqu, wal jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wan nabiyyuuna haqqun, wa muhammadun haqqun, wassaa’atu haqqun, allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfirlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a’lantu, antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru, laa ilaaha illaa anta.
Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Engkau adalah Al-Haq (Yang Maha Benar), janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali, hanya karena-Mu aku berdebat, dan hanya kepada-Mu aku berhukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan. Tiada Tuhan selain Engkau.”
Selain itu, setelah salam salat witir, disunnahkan membaca zikir:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
(Subhanal malikil quddus) sebanyak tiga kali, dengan bacaan ketiga dipanjangkan. Tambahan bacaan Rabbul malaikati warruh juga dianjurkan (HR. An-Nasa’i no. 1732).
Salat malam adalah kesempatan istimewa untuk bermunajat secara personal kepada Allah SWT di saat suasana paling tenang.
Memahami urutan salat malam bukan sekadar soal teknis ibadah, tetapi merupakan bentuk kecintaan dalam meneladani sunah Rasulullah SAW. Dengan mengikuti urutan yang benar, mulai dari persiapan, salat pembuka, tahajud, hingga witir, ibadah malam menjadi lebih tertib, khusyuk, dan bernilai.
Selain salat malam, Anda bisa melengkapi ibadah dengan berinfak dan bersedekah. Berinfak dan bersedekah tidak akan mengurangi harta yang Anda miliki saat ini. Justru Allah SWT menjanjikan berlimpahnya pahala dan harta orang yang bersedekah.
Hal tersebut sebagaimana Q.S Surat Saba yang artinya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’ : 39).
Bahkan dengan sedekah, bukan berarti Anda kekurangan harta melainkan Allah SWT akan mengganti harta tersebut berlipat ganda.
Kini, menunaikan sedekah secara online bisa dilakukan melalui aplikasi mobile banking M-Syariah. Bukan hanya sedekah saja, melainkan Anda bisa menunaikan kewajiban zakat, infak dan wakaf secara online.
Bank Mega Syariah bekerja sama dengan sejumlah lembaga terpercaya untuk menyalurkan seluruh bantuan tersebut. Beberapa di antaranya BAZNAS, Lazis Muhammadiyah, Yayasan Lazis NU, LAZ CT Arsa, hingga Badan Wakaf Indonesia.
Yuk, download M-Syariah untuk mempermudah beramal!
Bagikan Berita