14 Januari 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Saat ini, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Media sosial, video pendek, dan arus informasi tanpa henti memang memudahkan akses hiburan dan pengetahuan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena baru, yaitu brain rot.
Fenomena ini dianggap sebagai dampak negatif dari kebiasaan “terlalu lama hidup di dunia online” atau chronically online. Meski terdengar seperti istilah medis, brain rot sejatinya adalah istilah slang internet.
Namun, dampaknya terhadap kemampuan berpikir, fokus, dan bahasa tidak bisa dianggap remeh. Ketahui penjelasan lengkap mengenai cara menghindari dan menangani brain rot pada artikel berikut ini!
Secara harfiah, brain rot berarti “pembusukan otak”. Tentu saja, istilah ini tidak merujuk pada kerusakan fisik otak secara medis.
Brain rot adalah istilah non-klinis yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mental ketika seseorang merasa kemampuan kognitifnya menurun akibat konsumsi konten digital berkualitas rendah secara berlebihan dan terus-menerus.
Istilah ini menggambarkan keadaan ketika pikiran terasa kabur (brain fog), sulit berkonsentrasi, dan tidak mampu bertahan lama pada satu aktivitas intelektual.
Umumnya, brain rot sering dialami oleh individu yang terlalu sering terpapar konten instan, seperti video pendek berdurasi belasan detik, meme acak, atau potongan visual tanpa konteks.
Dalam kajian psikologi, brain rot berkaitan erat dengan adiksi dopamin dan penurunan attention span. Otak manusia terbiasa menerima rangsangan cepat dan berulang, sehingga kehilangan kemampuan untuk memproses informasi yang kompleks, mendalam, dan membutuhkan kesabaran.
Akibatnya, aktivitas seperti membaca buku, menonton film panjang, atau berpikir kritis terasa melelahkan.
Brain rot tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan melalui perubahan kebiasaan dan pola pikir.
Terdapat beberapa gejala yang muncul dari segi kognitif, diantaranya:
Rentang perhatian pendek, misalnya tidak kuat menonton film berdurasi dua jam tanpa mengecek ponsel.
Brain fog, ditandai dengan pikiran terasa kosong, lambat, dan sulit mengingat hal-hal sederhana.
Sulit berpikir kritis, cenderung menerima informasi mentah tanpa menganalisis kebenarannya.
Selain itu, dari sisi perilaku seseorang yang mengalami brain rot akan memiliki sejumlah ciri yang jelas, seperti:
Doom Scrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas, bahkan hingga larut malam.
Penyangkalan realitas, menggunakan internet sebagai pelarian ekstrem untuk menghindari tugas, masalah, atau tanggung jawab dunia nyata.
Gejala bahasa yang sering kali disadari oleh lingkungan sekitar. Penderitanya cenderung menggunakan slang internet atau bahasa meme dalam percakapan serius. Contohnya, penggunaan kata seperti “Skibidi”, “Sigma”, “Rizz”, “Gyatt”, “Fanum tax”, atau “Ohio” dalam konteks formal atau kehidupan sehari-hari, seolah kosa kata telah “dijajah” oleh algoritma media sosial.
Fenomena brain rot tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama yang memicunya, yaitu:
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dirancang untuk memberikan dopamine hit dalam waktu singkat. Setiap geseran layar memicu rasa senang instan, membuat otak kecanduan rangsangan cepat tersebut.
Otak manusia tidak dirancang untuk memproses ribuan potongan informasi dalam waktu singkat. Paparan berlebihan ini menyebabkan kelelahan mental dan menurunkan kemampuan fokus jangka panjang.
Konten tanpa narasi, nilai edukasi, atau struktur logis membuat otak tidak dilatih untuk berpikir. Prinsipnya sederhana: use it or lose it. Jika kemampuan berpikir jarang digunakan, lama-kelamaan akan tumpul.
Jika gejala brain rot masih tergolong ringan, pencegahan dapat dilakukan sejak dini untuk menjaga kesehatan otak dan kemampuan berpikir jangka panjang. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi paparan stimulus berlebihan sekaligus melatih kembali fokus dan kesadaran mental.
Berikut beberapa cara pencegahan brain rot yang bisa diterapkan secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari:
Salah satu penyebab utama brain rot adalah konsumsi konten digital yang tidak terfilter. Oleh karena itu, penting untuk secara sadar mengkurasi akun-akun yang Anda ikuti di media sosial. Hentikan mengikuti akun yang hanya menyajikan konten tidak jelas, meme berlebihan, atau video acak tanpa nilai informasi.
Sebagai gantinya, ikuti akun dengan konten yang lebih “lambat” dan bermakna, seperti edukasi ringan, resep memasak, tips kesehatan, atau dokumenter singkat. Dengan begitu, otak tetap mendapatkan stimulus, tetapi dalam bentuk yang lebih terstruktur dan menenangkan.
Aturan no phone zones bertujuan memberi jeda bagi otak dari paparan layar yang terus-menerus. Beberapa area yang ideal untuk bebas ponsel antara lain kamar mandi, meja makan, dan tempat tidur.
Dengan membatasi penggunaan ponsel di area tertentu, otak memiliki kesempatan untuk beristirahat dan kembali peka terhadap lingkungan sekitar. Kebiasaan ini juga membantu meningkatkan kualitas interaksi sosial dan kualitas tidur.
Otak yang terbiasa dengan konten instan sering kali kehilangan kesabaran untuk fokus dalam waktu lama. Untuk mengatasinya, latih fokus secara perlahan dengan menonton konten berdurasi panjang tanpa skip atau mempercepat video.
Selain itu, lakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, seperti membaca artikel panjang, menulis, atau mendengarkan podcast edukatif. Latihan ini membantu mengembalikan kemampuan otak dalam memproses informasi secara mendalam.
Hobi tanpa layar menjadi penyeimbang penting di tengah dominasi dunia digital. Aktivitas seperti memasak, berkebun, merakit, melukis, atau berolahraga melibatkan koordinasi fisik dan mental secara langsung.
Kegiatan yang disebut hobi analog ini membantu otak kembali terhubung dengan realitas fisik, meningkatkan kesadaran tubuh, serta mengurangi ketergantungan pada stimulus digital yang cepat dan dangkal.
Apabila Anda merasa mulai sulit fokus, mudah terdistraksi, atau menyadari perubahan cara berpikir dan berbahasa, langkah penanganan berikut dapat dilakukan sebagai bentuk “detoksifikasi otak”.
Pendekatan ini tidak bersifat instan, tetapi efektif jika dilakukan secara konsisten dan bertahap. Berikut ini beberapa caranya:
Dopamine detox dilakukan dengan berhenti sementara dari media sosial hiburan, seperti TikTok, Instagram, atau Twitter, selama 24 jam hingga 3 hari. Tujuannya adalah mereset sensitivitas reseptor dopamin agar otak tidak terus-menerus mencari kepuasan instan.
Pada awalnya, Anda mungkin merasa bosan, gelisah, atau tidak nyaman. Namun, kondisi tersebut merupakan tanda bahwa otak sedang beradaptasi dan mulai memulihkan keseimbangan stimulasi alaminya.
Membaca secara mendalam (deep reading) adalah latihan efektif untuk melawan brain rot. Biasakan membaca buku fisik, baik fiksi maupun nonfiksi, selama 15–30 menit setiap hari tanpa distraksi.
Aktivitas ini melatih fokus, memperkuat imajinasi, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang jarang digunakan saat sekadar melakukan scrolling media sosial.
Mindfulness membantu otak kembali hadir di masa kini, bukan terus terjebak di dunia maya. Salah satu cara sederhana adalah melakukan grounding technique, seperti memperhatikan napas dan menyadari benda-benda di sekitar.
Latihan ini membantu menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kesadaran diri terhadap pola penggunaan gawai yang berlebihan.
Kurang tidur sering kali memperparah gejala brain rot. Tidur yang cukup, sekitar 7–8 jam per malam tanpa gangguan ponsel, sangat penting bagi pemulihan fungsi otak.
Saat tidur, sistem pembersih alami otak bekerja untuk membuang “sampah metabolisme” yang menumpuk. Tidur berkualitas membantu meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kestabilan emosi.
Brain rot adalah konsekuensi nyata dari attention economy di era digital. Meski bukan penyakit medis, dampaknya terhadap produktivitas, kecerdasan emosional, dan kualitas hidup sangat signifikan.
Kunci utama untuk menghindarinya adalah menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Selain mengatur pola konsumsi konten, Anda juga dapat mengalihkan pengeluaran yang kurang bermanfaat ke hal yang lebih produktif, seperti menabung atau berinvestasi. Salah satu pilihan yang aman dan berkah adalah melalui Deposito Berkah Digital di M-Syariah.
Dana yang disimpan dalam deposito tidak dapat ditarik sewaktu-waktu, sehingga membantu menahan diri dari penggunaan impulsif. Pengajuan Deposito Berkah Digital dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi M-Syariah, dengan setoran awal ringan mulai dari Rp1 juta dan pilihan jangka waktu 1, 3, 6, hingga 12 bulan.
Selain deposito, Bank Mega Syariah juga menyediakan berbagai produk simpanan lain yang halal dan sesuai prinsip syariah. Dengan pengelolaan keuangan yang bijak, Anda tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga membangun masa depan yang lebih aman dan berkah.
Semoga informasi ini bermanfaat!
Bagikan Berita