6 Maret 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Dalam ajaran Islam, malam hari bukan hanya waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Justru, malam menjadi momen yang sangat istimewa bagi seorang Muslim untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah salat Witir.
Banyak orang mengenal salat Witir sebagai penutup salat Tarawih di bulan Ramadan. Padahal, ibadah ini sebenarnya dianjurkan untuk dilakukan setiap malam sepanjang tahun. Dengan melaksanakan salat Witir, seorang Muslim menutup rangkaian ibadah malamnya dengan doa dan penghambaan kepada Allah SWT.
Lalu, bagaimana sebenarnya tata cara salat Witir yang benar? Berapa jumlah rakaatnya, bagaimana niatnya, serta doa apa saja yang dianjurkan setelahnya? Yuk, simak panduan lengkap salat Witir berikut ini agar ibadah Anda semakin khusyuk dan sesuai sunnah!
Secara bahasa, kata witir berarti “ganjil”. Oleh karena itu, salat Witir selalu dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil, seperti 1, 3, 5, hingga 11 rakaat.
Salat Witir merupakan salat sunah yang sangat dianjurkan atau sunah muakkadah. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya salat ini sebagai penutup ibadah malam.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Witir wajib bagi setiap muslim. Barang siapa yang ingin berwitir dengan lima rakaat, maka kerjakanlah; yang ingin berwitir tiga rakaat, maka kerjkanlah; dan yang ingin berwitir satu rakaat, maka kerjakanlah!” (HR Abu Dawud, an-Nasâ`i dan Ibnu Mâjah, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abu Dâwud, no. 1421).
Karena itu, meskipun hukumnya sunah, banyak ulama menilai bahwa salat Witir termasuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk dijaga secara rutin.
Salah satu keistimewaan salat Witir adalah waktu pelaksanaannya yang cukup fleksibel. Salat ini dapat dilakukan dalam rentang waktu yang panjang di malam hari.
Secara umum, waktu salat Witir dimulai:
Setelah selesai salat fardu Isya
Hingga sebelum masuk waktu Subuh
Artinya, Anda bisa melaksanakan salat Witir kapan saja pada malam hari selama masih dalam rentang waktu tersebut.
Walaupun boleh dilakukan setelah Isya, waktu yang paling utama untuk melaksanakan salat Witir adalah di sepertiga malam terakhir, setelah menjalankan salat Tahajud.
Namun, bagi Anda yang khawatir tidak bisa bangun malam, sangat dianjurkan untuk melaksanakan salat Witir sebelum tidur. Dengan begitu, Anda tetap mendapatkan keutamaan ibadah malam meskipun tidak sempat bangun untuk Tahajud.
Secara umum, tata cara salat Witir tidak jauh berbeda dengan salat sunah lainnya. Salat ini diawali dengan niat, dilanjutkan dengan takbiratul ihram, membaca Surah Al-Fatihah, surah pendek Alquran, rukuk, sujud, hingga diakhiri dengan salam.
Perbedaannya terletak pada jumlah rakaat yang selalu ganjil serta posisi salat Witir sebagai penutup rangkaian ibadah malam. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang melaksanakan salat ini setelah salat Tahajud atau sebagai penutup salat Tarawih di bulan Ramadan.
Agar lebih mudah dipahami, berikut penjelasan mengenai jumlah rakaat, niat, hingga bacaan yang dianjurkan dalam salat Witir:
Karena bermakna ganjil, jumlah rakaat salat Witir selalu dalam hitungan ganjil. Salat Witir dapat dikerjakan dengan jumlah rakaat sebagai berikut:
Minimal: 1 rakaat
Maksimal: 11 rakaat
Namun, dalam praktik sehari-hari, jumlah rakaat yang paling umum dilakukan oleh umat Islam adalah 3 rakaat.
Menurut mayoritas ulama dalam Mazhab Syafi’i, cara yang paling utama untuk mengerjakan salat Witir tiga rakaat adalah dengan memisahnya menjadi dua salam, yaitu:
2 rakaat + salam
1 rakaat + salam
Cara ini dilakukan agar berbeda dengan salat Maghrib yang memiliki tiga rakaat dengan satu salam. Meski demikian, sebagian ulama juga memperbolehkan melaksanakan tiga rakaat sekaligus dengan satu salam.
Niat salat Witir sebenarnya cukup dihadirkan di dalam hati saat takbiratul ihram. Namun, melafalkan niat sering kali dilakukan untuk membantu menghadirkan kekhusyukan dalam ibadah.
Berikut lafal niat salat Witir jika dilakukan dengan formasi tiga rakaat (2 rakaat + 1 rakaat).
Niat 2 Rakaat Pertama
أُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal witri rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Saya niat salat sunah Witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat 1 Rakaat Penutup
أُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal witri rak'atal lillaahhi ta'aalaa.
Artinya:
“Saya niat salat sunah Witir satu rakaat karena Allah Ta’ala.”
Pada dasarnya, setelah membaca Surah Al-Fatihah, Anda diperbolehkan membaca surah apa pun dari Alquran. Namun, terdapat beberapa surah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca dalam salat Witir.
Rakaat Pertama: Disunahkan membaca Surah Al-A’la. Surah ini berisi perintah untuk menyucikan nama Allah serta pengingat tentang kebesaran-Nya.
Rakaat Kedua: Disunahkan membaca Surah Al-Kafirun. Surah ini menegaskan tauhid dan sikap tegas seorang Muslim dalam menjaga keimanan.
Rakaat Ketiga: Pada rakaat terakhir, dianjurkan membaca: Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Nas. Ketiga surah ini dikenal sebagai surah perlindungan yang sangat dianjurkan untuk dibaca dalam berbagai kesempatan.
Dalam tradisi Mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, terdapat anjuran membaca doa qunut pada salat Witir pada paruh kedua bulan Ramadan, yaitu mulai malam ke-16 hingga akhir Ramadan.
Doa ini dibaca pada rakaat terakhir setelah iktidal sebelum sujud.
Setelah menyelesaikan salat Witir, dianjurkan untuk tidak langsung beranjak dari tempat salat. Rasulullah SAW mengajarkan beberapa zikir dan doa yang indah untuk menutup ibadah malam ini.
Bacalah zikir berikut sebanyak tiga kali:
Subhaanal malikil qudduus
(Maha Suci Allah, Raja Yang Maha Suci)
Pada bacaan ketiga, disunahkan untuk sedikit memanjangkan suara.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca:
Robbil malaa-ikati warruuh
(Tuhan para malaikat dan ruh/Jibril)
Setelah zikir, Anda juga dapat membaca doa berikut: sesuai hadist sahih riwayat Abu Dawud:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ×٣ اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allahumma inni a'udzu biridhaka min sakhathika wa bi mu'afatika min 'uqubatika wa a'udzubika minka la uhshi tsana'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsika
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
Salat Witir bukan sekadar ibadah sunah biasa. Ibadah ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian salat malam, sekaligus cara indah untuk menutup hari dengan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dengan melaksanakan salat Witir secara rutin, seorang Muslim belajar menutup harinya dengan refleksi, ketenangan, dan doa. Ibadah ini juga menjadi pengingat bahwa setiap hari yang kita jalani adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Selain salat sunah, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan lainnya seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kini, Anda dapat menunaikan berbagai amalan tersebut dengan lebih mudah melalui aplikasi M-Syariah dari Bank Mega Syariah. Melalui aplikasi ini, Anda bisa menyalurkan dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) secara praktis dan aman.
Bank Mega Syariah juga bekerja sama dengan berbagai mitra zakat terpercaya agar penyaluran dana ZISWAF dapat tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Yuk, mulai rutinkan salat Witir sebagai penutup ibadah malam dan lengkapi dengan berbagai amal kebaikan lainnya agar hidup semakin berkah dan penuh ketenangan!
Bagikan Berita