05 Agustus 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Syarat donor darah menjadi hal penting yang perlu dipahami sebelum seseorang memutuskan untuk mendonorkan darahnya. Selain membantu memenuhi kebutuhan stok darah nasional, donor darah juga merupakan bentuk kepedulian sosial yang dapat menyelamatkan nyawa pasien yang membutuhkan transfusi darah.
Namun, tidak semua orang dapat langsung menjadi pendonor. Palang Merah Indonesia (PMI) menetapkan sejumlah persyaratan medis dan fisik untuk memastikan darah yang disumbangkan aman bagi penerima sekaligus tidak membahayakan kesehatan pendonor. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui syarat donor darah sebelum datang ke lokasi donor.
Lalu, apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi pendonor darah? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Donor darah bukan sekadar proses pengambilan darah dari tubuh seseorang. Setiap kantong darah yang didonorkan akan digunakan untuk membantu pasien yang mengalami kecelakaan, menjalani operasi, mengidap penyakit tertentu, atau membutuhkan transfusi secara rutin.
Karena darah akan masuk ke tubuh orang lain, kualitas dan keamanan darah harus terjamin. Di sisi lain, kondisi kesehatan pendonor juga harus diperhatikan agar proses donor tidak menimbulkan risiko seperti anemia, pusing, atau gangguan kesehatan lainnya.
Itulah sebabnya PMI dan lembaga kesehatan menerapkan standar donor darah yang cukup ketat berdasarkan pertimbangan medis.
Sebelum mendonorkan darah, petugas akan melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana untuk memastikan kondisi tubuh pendonor memenuhi syarat.
Berikut ini beberapa syarat donor darah yang sebaiknya dipenuhi:
Usia minimal untuk menjadi pendonor darah adalah 17 tahun. Pada usia tersebut, tubuh dianggap sudah cukup matang untuk menjalani proses donor darah dengan aman.
Sementara itu, batas usia maksimal umumnya adalah 60 tahun. Namun, bagi pendonor rutin yang sehat, donor darah masih dapat dilakukan hingga usia 65 tahun sesuai rekomendasi tenaga medis.
Berat badan menjadi salah satu syarat penting dalam donor darah. PMI menetapkan berat badan minimal 45 kilogram karena jumlah darah yang diambil berkisar 350–450 mililiter.
Jika berat badan terlalu rendah, tubuh berisiko mengalami penurunan tekanan darah atau kondisi lemas setelah donor.
Pendonor harus memiliki tekanan darah dalam rentang yang aman, yaitu:
Sistolik: 100–160 mmHg
Diastolik: 70–100 mmHg
Tekanan darah yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi saat proses donor berlangsung.
Hemoglobin (Hb) berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. PMI menetapkan kadar Hb minimal 12,5 gram/dL dan maksimal sekitar 17 gram/dL.
Pemeriksaan Hb dilakukan sebelum donor untuk memastikan pendonor tidak mengalami anemia atau gangguan darah lainnya.
Pendonor juga harus memiliki suhu tubuh normal sekitar 36,6–37,5 derajat Celsius serta denyut nadi berkisar 50–100 kali per menit dengan irama teratur.
Parameter ini menunjukkan bahwa tubuh berada dalam kondisi sehat dan siap menjalani donor darah.
Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak bisa mendonorkan darah untuk sementara waktu, diantaranya:
Orang yang sedang mengalami flu, batuk, demam, atau infeksi lainnya harus menunda donor darah hingga benar-benar pulih. Umumnya donor baru dapat dilakukan minimal satu minggu setelah sembuh.
Beberapa jenis obat, terutama antibiotik, dapat memengaruhi kualitas darah sehingga calon pendonor biasanya harus menunggu sekitar satu minggu setelah menyelesaikan pengobatan sebelum mendonorkan darah.
Setelah menerima vaksin tertentu, tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk respons imun. Masa tunggu donor darah setelah vaksinasi biasanya berkisar antara 2 hingga 4 minggu, tergantung jenis vaksin yang diberikan.
Prosedur tato dan tindik berisiko menyebabkan penularan penyakit melalui jarum yang tidak steril. Karena alasan keamanan, calon pendonor umumnya harus menunggu 6 bulan hingga 1 tahun sebelum diperbolehkan mendonorkan darah.
Wanita yang sedang hamil tidak diperbolehkan donor darah karena kebutuhan darah dalam tubuh meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin.
Ibu menyusui biasanya baru diperbolehkan donor sekitar 6 bulan setelah berhenti menyusui.
Selain penundaan sementara, terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat mendonorkan darah secara permanen.
Berikut beberapa kondisi yang tidak memenuhi syarat donor darah:
Orang dengan riwayat atau diagnosis HIV/AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis, tidak diperbolehkan menjadi pendonor karena berisiko menularkan penyakit kepada penerima transfusi.
Beberapa penyakit kronis juga menjadi alasan penolakan donor darah, seperti:
Penyakit jantung berat
Kanker
Penyakit hati serius
Diabetes yang memerlukan terapi insulin
Penderita hemofilia atau gangguan pembekuan darah lainnya tidak dianjurkan mendonorkan darah karena berisiko mengalami perdarahan.
Agar proses donor berjalan lancar, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yaitu:
Usahakan tidur minimal 5-7 jam pada malam sebelum donor darah. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko pusing dan kelelahan setelah donor.
Jangan datang ke lokasi donor dalam keadaan perut kosong. Konsumsilah makanan bergizi sekitar 3–4 jam sebelum donor agar kadar gula darah tetap stabil. Namun, hindari makanan yang terlalu berlemak karena dapat memengaruhi kualitas plasma darah.
Tubuh memerlukan cairan yang cukup sebelum donor. Minumlah 2–3 gelas air putih tambahan agar proses pengambilan darah berjalan lebih mudah dan tubuh lebih cepat beradaptasi setelah donor.
Menghindari konsumsi alkohol serta membatasi rokok sebelum donor dapat membantu menjaga kualitas darah dan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Selain membantu sesama, donor darah juga memberikan manfaat bagi kesehatan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa donor darah secara rutin dapat membantu menjaga sirkulasi darah, merangsang pembentukan sel darah baru, serta menjadi sarana pemeriksaan kesehatan sederhana karena setiap pendonor akan menjalani pengecekan tekanan darah, hemoglobin, dan kondisi fisik lainnya.
Tak kalah penting, donor darah juga memberikan manfaat sosial yang besar karena satu kantong darah dapat membantu lebih dari satu pasien melalui pemisahan komponen darah.
Donor darah merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dengan memahami syarat donor darah dan mempersiapkan diri dengan baik, Anda dapat menjalani proses donor secara aman dan nyaman.
Selain berbagi melalui donor darah, wujud syukur juga dapat dilakukan dengan mengelola amanah harta secara bijak melalui layanan perbankan syariah.
Bank Mega Syariah menghadirkan berbagai solusi keuangan sesuai prinsip syariah, termasuk M-Syariah dan Tabungan Berkah Utama iB, yang membantu masyarakat merencanakan keuangan secara lebih terarah dan penuh keberkahan.
Melalui pengelolaan keuangan yang baik, setiap langkah kebaikan yang dilakukan hari ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi keluarga dan sesama.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
Bagikan Berita