24 Februari 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Mobil listrik kini bukan lagi sekadar tren global, tetapi sudah menjadi bagian dari transformasi industri otomotif di Indonesia. Jalanan kota besar mulai dipenuhi kendaraan tanpa knalpot yang melaju senyap namun bertenaga. Perubahan ini bukan hanya soal gaya hidup, melainkan juga efisiensi dan keberlanjutan.
Banyak orang tertarik beralih ke mobil listrik karena biaya operasionalnya yang jauh lebih hemat dibandingkan mobil bensin. Namun, tidak sedikit pula yang masih ragu karena mempertimbangkan harga beli, infrastruktur pengisian daya, hingga daya tahan baterai.
Lantas, apakah mobil listrik benar-benar layak dimiliki di tahun 2026? Yuk, simak panduan lengkap mobil listrik berikut ini agar Anda bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak!
Mobil listrik adalah kendaraan yang menggunakan energi listrik sebagai sumber tenaga utama untuk menggerakkan roda. Energi tersebut disimpan dalam baterai berkapasitas besar yang dapat diisi ulang melalui sambungan listrik, baik di rumah maupun di stasiun pengisian umum.
Berbeda dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin atau solar, mobil listrik tidak memiliki mesin pembakaran internal, tangki bahan bakar, maupun knalpot.
Lantaran tidak menghasilkan emisi gas buang, kendaraan ini dianggap lebih ramah lingkungan dan menjadi solusi transportasi masa depan yang lebih bersih.
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa tidak semua mobil “listrik” itu sama. Banyak masyarakat masih tertukar antara mobil listrik murni dan mobil hybrid, padahal keduanya memiliki sistem kerja berbeda.
Secara umum, kendaraan elektrifikasi terbagi menjadi tiga kategori utama, yaitu BEV, HEV, dan PHEV. Masing-masing memiliki karakteristik, keunggulan, serta tingkat ketergantungan berbeda terhadap bahan bakar fosil.
Berikut ini masing-masing penjelasannya:
BEV adalah mobil listrik murni yang 100 persen tenaganya berasal dari baterai. Kendaraan ini tidak memiliki tangki bensin maupun knalpot karena sepenuhnya mengandalkan motor listrik sebagai penggerak utama.
Beberapa contoh BEV populer di Indonesia antara lain Wuling Air ev, BYD Atto 3, MG 4 EV, dan Hyundai Ioniq 5. Semua model tersebut menggunakan baterai berkapasitas besar yang dapat diisi ulang melalui sistem plug-in.
HEV (Hybrid Electric Vehicle) masih menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama, yang kemudian dibantu motor listrik dan baterai kecil. Baterai pada HEV tidak perlu diisi daya dari luar karena akan terisi otomatis saat kendaraan berjalan.
Sementara itu, PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) memiliki baterai lebih besar yang bisa diisi melalui colokan listrik, tetapi tetap dilengkapi mesin bensin sebagai cadangan.
Berbeda dengan BEV, kedua jenis ini masih bergantung pada bahan bakar fosil meskipun konsumsi BBM-nya lebih hemat.
Mobil listrik memiliki sistem yang jauh lebih sederhana dibandingkan mobil bensin. Jika mobil konvensional memiliki ribuan komponen bergerak, mobil listrik hanya mengandalkan beberapa komponen inti.
Sederhananya, energi listrik disimpan dalam baterai, diolah oleh sistem elektronik, lalu diubah menjadi tenaga gerak melalui motor listrik. Untuk lebih jelasnya, ini dia penjelasan mengenai cara kerja mobil listrik:
Baterai traksi berfungsi sebagai “tangki energi” pada mobil listrik. Komponen ini menyimpan listrik dalam bentuk arus DC (Direct Current) yang nantinya digunakan untuk menggerakkan kendaraan.
Jenis baterai yang umum digunakan adalah Lithium-Ion NMC dan LFP (Lithium Iron Phosphate). Baterai LFP dikenal lebih stabil dan tahan lama, sehingga banyak digunakan pada model kendaraan listrik yang beredar di Indonesia.
Inverter berfungsi mengubah arus DC dari baterai menjadi arus AC yang dibutuhkan motor listrik. Tanpa inverter, energi dari baterai tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan tenaga gerak.
Motor listrik sendiri menghasilkan torsi instan sejak pedal ditekan. Inilah alasan mengapa mobil listrik terasa responsif dan halus tanpa jeda perpindahan gigi seperti pada mobil konvensional.
Regenerative braking adalah teknologi yang memungkinkan energi saat pengereman dikonversi kembali menjadi listrik untuk mengisi baterai. Sistem ini meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi pemborosan energi.
Selain itu, penggunaan rem mekanis menjadi lebih minim sehingga usia kampas rem dapat lebih panjang. Fitur ini menjadi salah satu keunggulan teknis mobil listrik dibandingkan mobil bensin.
Salah satu alasan utama orang beralih ke mobil listrik adalah penghematan biaya harian. Perbandingan konsumsi energi menunjukkan selisih yang cukup signifikan.
Sebagai gambaran, berikut ini biaya-biaya mengenai mobil listrik:
Untuk jarak 100 km, mobil bensin 1.500 cc rata-rata membutuhkan sekitar 8,5 liter bahan bakar. Dengan harga Rp13.500 per liter, total biaya mencapai sekitar Rp114.750.
Sebaliknya, mobil listrik rata-rata membutuhkan 15 kWh untuk jarak yang sama.
Dengan tarif listrik Rp1.699 per kWh, biaya hanya sekitar Rp25.485. Artinya, biaya operasional bisa 4–5 kali lebih hemat. Jika mengisi daya pada malam hari (22.00–05.00), tersedia diskon tarif listrik hingga 30 persen sehingga biaya semakin efisien.
Banyak orang mengira perawatan mobil listrik mahal. Faktanya justru sebaliknya karena sistemnya lebih sederhana dan minim komponen bergerak.
Mobil listrik tidak memerlukan ganti oli mesin, filter oli, busi, atau servis transmisi kompleks. Perawatan rutin hanya meliputi filter kabin, minyak rem, coolant baterai, serta komponen habis pakai seperti ban dan wiper.
Dalam jangka 100.000 km atau lima tahun, biaya servis mobil listrik bisa hingga 50 persen lebih hemat dibandingkan mobil bensin sekelasnya.
Harga mobil listrik di Indonesia bervariasi, mulai dari kisaran Rp180 jutaan untuk kelas entry level hingga di atas Rp1 miliar untuk segmen premium. Selisih harga ini dipengaruhi kapasitas baterai, fitur, serta teknologi yang disematkan.
Pemerintah memberikan berbagai insentif, seperti PPN hanya 1 persen untuk mobil dengan TKDN di atas 40 persen. Selain itu, mobil listrik bebas aturan ganjil-genap di Jakarta dan memiliki pajak tahunan yang relatif lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
Ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting sebelum membeli mobil listrik. Saat ini, terdapat tiga jenis pengisian daya, yaitu slow charging di rumah, medium charging di fasilitas publik, dan fast charging di SPKLU.
Pengisian di rumah menggunakan wallbox membutuhkan waktu sekitar 6–10 jam, tergantung kapasitas baterai. Sementara itu, fast charging di rest area tol dapat mengisi daya dari 20 persen ke 80 persen dalam waktu sekitar 30–45 menit.
PLN juga menyediakan layanan pemasangan daya tambahan untuk mendukung kebutuhan pemilik mobil listrik.
Garansi baterai mobil listrik umumnya mencapai 8 tahun atau 160.000 km. Jika kapasitas turun di bawah 70 persen dalam masa garansi, produsen biasanya akan menggantinya tanpa biaya tambahan.
Umur baterai modern dapat mencapai 10–15 tahun sebelum mengalami penurunan kapasitas signifikan. Meskipun harga jual kembali mobil listrik masih beradaptasi di pasar, model yang populer mulai menunjukkan nilai resale yang lebih stabil.
Keunggulan utama mobil listrik terletak pada efisiensi biaya, bebas emisi, pengalaman berkendara yang senyap, serta berbagai insentif dari pemerintah. Kendaraan ini juga menawarkan teknologi canggih dan desain futuristik yang menarik bagi generasi modern.
Namun, tantangan seperti harga beli awal yang lebih tinggi, waktu pengisian daya, serta kekhawatiran jarak tempuh masih menjadi pertimbangan. Faktor kondisi jalan, kemacetan, dan rute menanjak juga dapat memengaruhi konsumsi daya baterai.
Mobil listrik menawarkan solusi transportasi yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Dengan teknologi yang terus berkembang serta dukungan regulasi pemerintah, adopsinya di Indonesia diperkirakan akan semakin meningkat.
Jika Anda mencari kendaraan modern dengan biaya operasional rendah dan pengalaman berkendara nyaman, mobil listrik layak dipertimbangkan. Pertimbangkan kebutuhan dan gaya hidup Anda sebelum beralih, lalu nikmati era baru berkendara tanpa emisi.
Setelah memahami perbedaan mobil listrik dan bensin serta mempertimbangkan pilihan terbaik, Anda mungkin mulai tertarik memiliki kendaraan impian. Agar proses kepemilikan tetap tenang dan sesuai prinsip keuangan syariah, penting memilih skema pembiayaan yang transparan dan bebas riba.
Bank Mega Syariah melalui program Flexi Oto menyediakan fasilitas pembiayaan kendaraan dengan akad murabahah. Skemanya berupa jual beli barang ready stock dengan harga dan margin yang disepakati kedua belah pihak sejak awal.
Plafon pembiayaan tersedia mulai dari Rp100 juta hingga Rp5 miliar dengan tenor hingga 60 bulan (5 tahun), sehingga angsuran tetap dan terencana hingga lunas. Anda pun bebas memilih mobil baru keluaran Jepang, Eropa, maupun Amerika sesuai kebutuhan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengakses laman resmi maupun media sosial resmi Bank Mega Syariah dan mengajukan pembiayaan secara online.
Semoga informasi ini membantu Anda mewujudkan kendaraan impian dengan cara yang lebih tenang dan sesuai prinsip syariah!
Bagikan Berita