28 Februari 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Ramadan adalah bulan penuh berkah yang selalu dinanti umat Islam. Tanpa terasa, hari demi hari berlalu begitu cepat. Kini kita telah sampai di fase paling menentukan, yaitu 10 malam terakhir Ramadan. Di sinilah ada satu malam yang nilainya lebih berharga daripada usia panjang manusia, yaitu Lailatul Qadr.
Sering kali kita semangat di awal Ramadan, tetapi justru melemah di penghujungnya. Padahal, 10 malam terakhir adalah “garis finish” yang harus dimaksimalkan.
Lailatul Qadr bukan sekadar malam biasa. Ia adalah anugerah besar dari Allah SWT. untuk umat Nabi Muhammad SAW. Yuk, simak pembahasan lengkap tentang Lailatul Qadr agar kita tidak melewatkannya begitu saja!
Lailatul Qadr adalah malam paling istimewa dalam bulan Ramadan yang diyakini umat Islam sebagai malam penuh kemuliaan dan keberkahan.
Secara bahasa, kata lailah berarti malam, sedangkan al-qadr memiliki beberapa makna, seperti kemuliaan, ketetapan, ukuran, atau keputusan. Dengan demikian, Lailatul Qadr dapat dimaknai sebagai malam kemuliaan sekaligus malam penetapan takdir.
Allah SWT. secara khusus menyebut malam ini dalam Surah Al-Qadr, menunjukkan betapa agung kedudukannya. Ia disebut malam kemuliaan karena nilainya yang sangat tinggi di sisi Allah, serta malam ketetapan karena pada waktu itulah Allah menetapkan berbagai urusan hamba-Nya untuk satu tahun ke depan.
Para ulama menjelaskan bahwa makna qadr juga berkaitan dengan “ukuran” atau “ketentuan.” Pada malam tersebut, takdir tahunan yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz diperinci dan ditetapkan untuk dilaksanakan sesuai kehendak Allah.
Inilah sebabnya Lailatul Qadr sering disebut sebagai malam penentuan nasib manusia dalam satu tahun mendatang.
Beberapa ulama menyebut malam ini dengan nama lain yang menggambarkan keagungannya, seperti Lailatul Barakah (malam penuh keberkahan), Lailatur Rahmah (malam kasih sayang), dan Lailatus Salam (malam keselamatan).
Semua sebutan ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr adalah momentum istimewa yang tidak boleh disia-siakan.
Keutamaan Lailatul Qadr dijelaskan secara gamblang dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5.
Berikut penjelasannya:
Ayat pertama Surah Al-Qadr menegaskan bahwa Alquran diturunkan pada malam yang mulia ini. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan umat manusia karena Alquran adalah petunjuk hidup, pembeda antara yang benar dan salah, serta cahaya bagi hati yang gelap.
Turunnya Alquran pada Lailatul Qadr menunjukkan bahwa malam ini bukan sekadar waktu biasa, melainkan momentum lahirnya peradaban yang berlandaskan wahyu.
Oleh sebab itu, memperbanyak tilawah dan tadabur Alquran di malam-malam terakhir Ramadan menjadi sangat relevan.
Dalam ayat ketiga disebutkan bahwa Lailatul Qadr lebih baik dari 1.000 bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah selama sekitar 83 tahun lebih tanpa Lailatul Qadr.
Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut dilipatgandakan secara luar biasa. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW., yang umurnya relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.
Allah SWT. menjelaskan bahwa pada malam itu, Malaikat Jibril dan para malaikat turun ke bumi dengan izin-Nya untuk mengatur segala urusan. Turunnya malaikat dalam jumlah besar menunjukkan betapa agung dan penuh berkahnya malam tersebut.
Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, dan kesejahteraan hingga terbit fajar. Suasana spiritual malam itu menjadi sangat berbeda, dipenuhi kedamaian dan limpahan kebaikan bagi hamba yang beribadah.
Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3–4 dijelaskan bahwa pada malam penuh berkah itu ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah. Para ulama memahami ayat ini sebagai penetapan takdir tahunan, seperti rezeki, ajal, dan berbagai peristiwa yang akan terjadi.
Karena itu, Lailatul Qadr menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak doa. Seorang hamba memohon kebaikan dunia dan akhirat, berharap agar takdir yang ditetapkan baginya dipenuhi keberkahan dan perlindungan dari keburukan.
Allah SWT. tidak memberitahukan tanggal pasti Lailatul Qadr. Mengapa? Agar umat Islam tidak hanya beribadah di satu malam saja, tetapi bersungguh-sungguh sepanjang 10 malam terakhir.
Rasulullah SAW. bersabda, “Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).
Malam yang dimaksud adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Namun, tidak ada jaminan bahwa Lailatul Qadr selalu jatuh pada malam tertentu karena bisa berpindah setiap tahunnya.
Perlu diingat, dalam Islam pergantian hari dimulai saat Magrib. Artinya, malam ke-21 dimulai sejak Magrib pada hari ke-20 puasa. Hal ini penting agar kita tidak keliru menghitung malam ganjil.
Di masyarakat beredar berbagai mitos, seperti air membeku, pohon menunduk, atau hewan tidak bersuara. Namun, tidak ada dalil sahih yang mendukung anggapan tersebut.
Berikut tanda-tanda yang sesuai dengan hadis sahih.
Malam Lailatul Qadr terasa damai, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Suasananya hening dan menenangkan.
Angin bertiup dengan lembut dan suasana terasa tenteram. Tidak ada badai atau kondisi ekstrem.
Tanda paling kuat adalah matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya putih yang lembut dan tidak menyilaukan mata, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih.
Agar tidak hanya mengetahui keutamaannya, kita perlu menyiapkan langkah konkret untuk meraih Lailatul Qadr.
Berikut beberapa amalan utama yang dapat dilakukan:
Menghidupkan malam dengan salat Tarawih, Tahajud, Witir, dan salat sunnah lainnya adalah amalan paling utama.
Rasulullah SAW. bersabda bahwa siapa yang melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Qiyamul lail bukan sekadar rutinitas fisik, tetapi bentuk ketundukan hati kepada Allah. Di saat kebanyakan orang terlelap, seorang hamba berdiri memohon ampunan dan rahmat-Nya.
I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW. secara konsisten melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.
Melalui i’tikaf, seorang Muslim memutus sementara urusan duniawi dan fokus pada ibadah, doa, serta refleksi diri. Ini adalah cara efektif untuk menjaga kekhusyukan dalam mencari Lailatul Qadr.
Karena Lailatul Qadr adalah malam turunnya Alquran, maka memperbanyak membaca, memahami, dan merenungi maknanya menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Tilawah bukan hanya membaca, tetapi juga menghayati pesan ilahi yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu, hati menjadi lebih lembut dan dekat dengan Allah.
Bersedekah di 10 malam terakhir adalah strategi cerdas untuk meraih pahala maksimal. Jika sedekah tersebut bertepatan dengan Lailatul Qadr, nilainya akan berlipat ganda melebihi 1.000 bulan.
Sedekah juga menjadi wujud kepedulian sosial yang nyata, terutama kepada mereka yang membutuhkan di bulan Ramadan.
Ibunda Aisyah r.a. pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, doa apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kata ‘Afuw dalam doa ini bermakna menghapus dosa hingga bersih tanpa sisa. Jika Allah telah memberikan kemaafan total, maka tidak ada lagi penghalang antara seorang hamba dan rida-Nya.
Karena itu, inti dari Lailatul Qadr bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga merendahkan hati dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh. Di sanalah letak kemenangan sejati seorang hamba.
Lailatul Qadr adalah anugerah yang harus dijemput dengan usaha, bukan sekadar ditunggu. Perbanyak ibadah, doa, dan sedekah di sisa hari Ramadan ini.
Untuk mendukung ibadah Anda selama bulan Ramadan, Bank Mega Syariah menghadirkan berbagai program dan kegiatan yang dapat membantu Anda menjalani bulan suci dengan lebih bermakna.
Selain itu, Bank Mega Syariah juga menyediakan layanan yang memudahkan Anda dalam beribadah dan berbagi kebaikan melalui fitur Donasi dan Amal. Tersedia beragam mitra terpercaya untuk menyalurkan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) secara praktis dan tepat sasaran.
Anda dapat menunaikan donasi, zakat, infaq, sedekah, dan wakaf dengan mudah melalui aplikasi mobile banking M-Syariah, kapan saja dan di mana saja. Dengan kemudahan ini, ibadah berbagi di bulan Ramadan menjadi lebih efisien, aman, dan nyaman.
Semoga informas ini bermanfaat dan membantu Anda dalam beribadah di bulan suci, ya!
Bagikan Berita