06 Juli 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia kembali menguat pada awal pekan, didorong oleh melambatnya pertumbuhan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) serta meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan optimisme pasar bahwa tekanan terhadap harga emas mulai berkurang setelah sempat terkoreksi selama beberapa pekan.
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (6/7/2026) pukul 06.19 WIB, harga emas berada di level US$4.187,29 per ons troi, atau menguat sekitar 0,3%. Penguatan ini membawa harga emas kembali mendekati level psikologis US$4.200 per ons troi.
Pada perdagangan Jumat (3/7/2026) sebelumnya, harga emas sudah melonjak 1,26%. Secara mingguan, logam mulia ini juga mencatat kenaikan sekitar 2,2% sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh melambatnya perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) sepanjang Juni. Dampaknya, pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve atau The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 54%, dari yang sebelumnya mencapai 66% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Catatan Redaksi: Suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan opportunity cost atau biaya peluang untuk memiliki aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas. Kondisi tersebut umumnya menjadi sentimen positif bagi harga logam mulia.
Di tengah pemulihan ini, JPMorgan justru merevisi proyeksi harga logam mulia untuk akhir 2026. Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut memangkas target harga emas dari US$6.000 menjadi US$4.500 per ons troi.
Langkah ini diambil karena melemahnya permintaan dari sejumlah pembeli utama, ditambah risiko kenaikan suku bunga The Fed yang diprediksi bisa terjadi lebih cepat. Padahal pada Juni lalu, JPMorgan masih optimis harga emas dapat menyentuh US$6.000 per ons troi pada akhir 2026. Kini, target mereka berubah menjadi:
Kuartal III 2026: sekitar US$4.300 per ons troi
Kuartal IV 2026: sekitar US$4.500 per ons troi
Sebagai catatan, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari 2026 dengan menembus level US$5.000 per ons troi, sebelum akhirnya masuk ke fase koreksi yang cukup panjang sejak Maret. Menurut analis JPMorgan, lesunya permintaan emas dibanding perkiraan awal menjadi faktor utama di balik revisi ini.
Selain itu, jika data ekonomi Amerika Serikat terus membaik, The Fed berpotensi mempercepat kenaikan suku bunga. Skenario tersebut akan menekan harga emas karena logam mulia tidak menghasilkan bunga maupun kupon keuntungan.
Meski demikian, JPMorgan tetap mempertahankan pandangan bullish untuk jangka panjang. Mereka memproyeksikan harga emas akan kembali naik mulai tahun 2027, ditopang oleh aksi beli yang konsisten dari bank-bank sentral serta langkah diversifikasi cadangan devisa global.
Selain emas, JPMorgan juga merilis proyeksi untuk komoditas lainnya:
Perak: Harga rata-rata diperkirakan berada di kisaran US$60–65 per ons.
Platinum: Diproyeksikan mencapai sekitar US$1.800 per ons pada akhir 2026 dan US$1.950 per ons pada akhir 2027.
Paladium: Diperkirakan berada di kisaran US$1.350 per ons pada akhir 2026, dengan rata-rata US$1.300 per ons sepanjang 2027.
Revisi proyeksi JPMorgan muncul di tengah hangatnya perdebatan mengenai efektivitas emas dan Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai (safe haven).
European Central Bank (ECB) melaporkan bahwa untuk pertama kalinya, porsi emas dalam cadangan devisa global berhasil melampaui kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Data ini membuktikan bahwa bank-bank sentral dunia masih mengandalkan emas sebagai aset strategis utama mereka.
Di sisi lain, Nikolaos Panigirtzoglou, seorang analis di JPMorgan, menilai Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang lebih besar dengan estimasi nilai wajar mencapai US$266.000.
Namun, pandangan tersebut menuai pro-kontra. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menegaskan bahwa Bitcoin tidak akan bisa menggantikan peran fundamental emas sebagai aset lindung nilai. Sementara itu, salah satu pendiri BitMEX, Arthur Hayes, berpendapat bahwa performa Bitcoin yang sempat tertinggal dari emas belakangan ini lebih disebabkan oleh terbatasnya likuiditas dolar AS di pasar global.
Secara teknikal, perhatikan beberapa level kunci yang menjadi fokus para pelaku pasar pekan ini:
Skenario Bullish
Apabila harga emas berhasil menembus level US$ 4.300 per troy ons yang didukung oleh volume transaksi yang tinggi, harga berpotensi melanjutkan reli menuju kisaran US$ 4.800 per troy ons. Skenario ini berpeluang besar terjadi jika The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneter (dovish) atau jika tensi ketidakpastian geopolitik global kembali memanas.
Skenario Bearish
Sebaliknya, jika harga emas longsor dan bertahan di bawah level US$ 3.960 per troy ons, harganya berpotensi terus melemah menuju kisaran US$ 3.800 hingga US$ 3.600 per troy ons. Kondisi ini rentan terjadi apabila data ekonomi AS terus menguat di luar ekspektasi, sehingga memicu The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Dengan demikian, arah pergerakan harga emas sepanjang pekan ini akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS, sinyal kebijakan suku bunga The Fed, serta perkembangan geopolitik dunia.
Meskipun JPMorgan memangkas target jangka pendek untuk akhir tahun 2026, prospek jangka panjang logam mulia ini dinilai tetap prospektif. Dukungan kuat dari aksi borong bank sentral, diversifikasi cadangan devisa, dan potensi pelonggaran moneter di masa depan diprediksi akan terus menjadi bantalan kuat bagi harga emas dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber Referensi:
CNBC Indonesia: Harga Emas Mendekati US$ 4.200, Ini Ramalan Terbaru dari JPMorgan
Investor.id: Aksi Jual Emas Mulai Marak
Investor.id: Nasib Harga Emas Pekan Ini, Reli Berlanjut atau Kembali Tertekan?
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,610,600 |
5gr | Rp13,053,000 |
10gr | Rp26,106,000 |
25gr | Rp65,265,000 |
50gr | Rp130,530,000 |
100gr | Rp261,060,000 |
Bagikan Berita