29 Juni 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta sejumlah data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Fokus investor akan tertuju pada rilis Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur dan jasa dari sejumlah negara, inflasi kawasan euro, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran. Berbagai indikator tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada Senin (29/6/2026) pukul 06.15 WIB berada di level US$4.087,99 per ons troi, atau melemah tipis 0,01%.
Sementara itu, pada perdagangan Jumat (26/6/2026), harga emas ditutup di posisi US$4.088,23 per ons troi, menguat 1,5% dibandingkan hari sebelumnya. Namun secara mingguan, harga emas masih terkoreksi 1,73%, sehingga mencatat penurunan selama empat pekan berturut-turut.
Secara teknikal, harga emas masih bergerak dalam tren menurun (bearish) setelah menembus garis tren naik (uptrend line). Selama harga belum mampu kembali menembus level US$4.115 per ons troi, tekanan jual diperkirakan masih akan berlanjut.
Area US$3.927–US$3.886 per ons troi menjadi level support terdekat yang perlu dicermati investor. Jika area tersebut berhasil ditembus ke bawah, harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan hingga kisaran US$3.650 per ons troi.
Sebaliknya, apabila mampu menembus level US$4.115 per ons troi, harga emas berpeluang berbalik menguat dengan target berikutnya di sekitar US$4.248 per ons troi.
Catatan Redaksi: Dalam analisis teknikal, support merupakan area yang diperkirakan mampu menahan penurunan harga, sedangkan resistance adalah level yang berpotensi menghambat kenaikan harga.
Pandangan sejumlah lembaga internasional terhadap prospek harga emas saat ini masih beragam.
ING memilih memangkas proyeksi harga emas karena memperkirakan penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta kebijakan suku bunga tinggi akan terus membatasi ruang kenaikan harga logam mulia.
ING kini memproyeksikan harga emas rata-rata berada di kisaran US$4.300 per ons troi pada kuartal III 2026 dan US$4.600 per ons troi pada kuartal IV 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya masing-masing sebesar US$4.850 dan US$5.000 per ons troi.
“Meski pasar semakin khawatir suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, ekonom kami masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun imbal hasil obligasi yang tinggi dan kuatnya dolar AS diperkirakan tetap menjadi sentimen negatif bagi harga emas dalam jangka pendek,” ujar Ewa Manthey, Commodities Strategist ING.
Selain tekanan dari kebijakan moneter, melemahnya permintaan dari Exchange Traded Fund (ETF) juga menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga emas. Setelah sempat menjadi pendorong utama reli harga emas pada awal tahun, investor mulai melakukan aksi ambil untung sejak Maret seiring berubahnya ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed. Saat ini, kepemilikan emas global melalui ETF tercatat sekitar 1,5% lebih rendah dibandingkan awal tahun.
Di tengah tekanan tersebut, aksi borong emas oleh bank-bank sentral dunia masih menjadi faktor utama yang menopang harga logam mulia ini. Pada kuartal I 2026, bank sentral global tercatat membeli sekitar 244 ton emas, dengan Polandia dan China menjadi pembeli terbesar.
China bahkan telah menambah cadangan emasnya selama 19 bulan berturut-turut. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat mereka dalam melakukan diversifikasi cadangan devisa.
Hasil survei World Gold Council (WGC) juga menunjukkan bahwa 84% bank sentral memperkirakan porsi emas dalam cadangan devisa global akan terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, hampir 90% responden memproyeksikan kepemilikan emas resmi masih akan bertambah dalam 12 bulan mendatang.
“Permintaan emas yang tetap tinggi dari bank sentral mencerminkan upaya berkelanjutan untuk mendiversifikasi cadangan devisa. Kondisi ini diperkirakan akan menjadi penopang harga emas meski permintaan investor masih berada di bawah tekanan,” jelas Ewa Manthey.
Pranav Mer, Vice President EBG Commodity & Currency Research JM Financial Services, menilai momentum emas dan perak masih berada dalam tren turun.
“Momentum harga emas dan perak masih berada dalam tren turun dan fase koreksi,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Jateen Trivedi, Vice President sekaligus Research Analyst Commodity and Currency LKP Securities. Menurutnya, pelemahan harga emas sepanjang pekan lalu terutama dipicu oleh penguatan dolar AS yang terus berlangsung sehingga membebani harga logam mulia.
“Emas berada di bawah tekanan jual yang signifikan sepanjang pekan lalu dan ditutup melemah sekitar 2%, memperpanjang tren penurunan mingguan karena penguatan dolar AS yang terus berlanjut masih membebani harga logam mulia,” kata Trivedi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pergerakan harga emas pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik, arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, serta data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan Eropa.
Meski tekanan jangka pendek masih cukup besar, permintaan yang tetap kuat dari bank-bank sentral dunia diperkirakan dapat menjadi penopang harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi dan kebijakan bank sentral sebagai indikator utama arah pergerakan harga emas ke depan.
Sumber Referensi:
Kontan.co.id: Harga Emas Turun, Gadai ValueMax Pastikan Minat Gadai Emas Tetap Terjaga
Investasi.id: Harga Emas Tergelincir Prospek Suku Bunga The Fed
CNBC Indonesia: Simak! Begini Ramalan Lembaga Dunia Soal Harga Emas & Perak Pekan Ini
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,585,600 |
5gr | Rp12,928,000 |
10gr | Rp25,856,000 |
25gr | Rp64,640,000 |
50gr | Rp129,280,000 |
100gr | Rp258,560,000 |
Bagikan Berita