18 Agustus 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia kembali menguat pada awal pekan dan mencatat kenaikan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Penguatan tersebut didorong oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta pelemahan dolar AS. Di sisi lain, investor masih mencermati perkembangan geopolitik dan menunggu risalah rapat Federal Reserve (The Fed) untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Mengutip Reuters, harga emas spot pada Selasa (18/8/2026) pukul 00.37 GMT naik 0,4% menjadi US$4.431,09 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menguat 0,3% menjadi US$4.487,70 per ons troi.
Pelemahan dolar AS turut memberikan dukungan terhadap harga emas. Ketika dolar melemah, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan emas. Mayoritas ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan September dan hingga akhir 2026.
Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan pelemahan. Data menunjukkan perekonomian AS kehilangan lapangan kerja secara tak terduga pada Juli, sementara inflasi konsumen dan penjualan ritel juga tercatat lebih lemah dari perkiraan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini berada di sekitar 33%, turun dari 51,2% sebelumnya. Sementara itu, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September mendekati 65%.
Catatan Redaksi: Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau kupon. Oleh karena itu, ketika ekspektasi kenaikan suku bunga menurun, biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas ikut berkurang. Kondisi tersebut umumnya menjadi sentimen positif bagi harga logam mulia.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada risalah rapat The Fed yang digelar pada Juli. Risalah tersebut akan menjadi salah satu acuan untuk melihat perbedaan pandangan para pejabat bank sentral mengenai arah suku bunga ke depan. Investor akan mencermati apakah para pejabat The Fed masih melihat adanya kebutuhan untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi atau mulai membuka ruang bagi kebijakan yang lebih longgar.
Apabila risalah menunjukkan sikap yang lebih dovish, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Sebaliknya, apabila The Fed kembali menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi kembali menguat sehingga dapat menekan harga emas.
Selain kebijakan moneter, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya apabila upaya diplomasi dengan Amerika Serikat gagal.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik di kawasan masih belum sepenuhnya mereda. Apabila ketegangan kembali meningkat, permintaan emas sebagai aset safe haven berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga logam mulia, terutama jika konflik berpotensi mengganggu stabilitas energi global.
Dengan demikian, kombinasi pelemahan dolar AS, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga, risiko stagflasi, serta ketidakpastian geopolitik masih menjadi sejumlah katalis positif bagi harga emas.
Faktor fundamental lain yang masih menopang harga emas adalah tingginya pembelian dari bank sentral dunia. Data menunjukkan pembelian bersih bank sentral mencapai sekitar 289 ton pada kuartal II 2026, meningkat 62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I, pembelian bank sentral mencapai sekitar 244 ton.
Dengan demikian, total pembelian emas oleh bank sentral sepanjang semester I 2026 telah mencapai sekitar 530 ton. Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut. Survei World Gold Council menunjukkan sekitar 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral dunia akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Selain itu, sekitar 45% bank sentral yang disurvei menyatakan berencana menambah cadangan emas mereka sendiri. Bank Sentral Polandia menjadi salah satu pembeli terbesar dengan tambahan sekitar 51 ton, sementara Bank Sentral China menambah sekitar 33 ton, yang menjadi pembelian terbesar China sejak kuartal IV 2023.
Catatan Redaksi: Pembelian emas oleh bank sentral merupakan salah satu faktor struktural yang dapat menopang permintaan emas dalam jangka panjang, terutama sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Meskipun momentum penguatan mulai terbentuk, harga emas belum sepenuhnya terbebas dari tekanan jual. Pada 12 Agustus, harga emas sempat mencapai sekitar US$4.407 per ons troi, sebelum kembali terkoreksi menuju US$4.350 pada sesi berikutnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa area US$4.400 masih menjadi wilayah yang diwarnai aksi ambil untung.
Secara teknikal, harga emas perlu menembus level US$4.407 per ons troi untuk membuka peluang kenaikan menuju US$4.500 per ons troi. Apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas US$4.500, ruang penguatan berikutnya terbuka menuju kisaran:
Sebaliknya, apabila harga gagal mempertahankan level US$4.375 per ons troi, emas berpotensi kembali menguji area US$4.350 per ons troi. Jika support tersebut ikut ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju US$4.240 per ons troi.
Dengan harga acuan sekitar US$4.386,76 per ons troi, emas kini berada di dekat area penentuan. Penembusan US$4.400 dapat menjadi sinyal awal penguatan, sementara kemampuan bertahan di atas US$4.500 akan menjadi konfirmasi yang lebih kuat terhadap kelanjutan tren bullish.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pergerakan harga emas dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan The Fed, terutama setelah rilis risalah rapat Juli. Pelemahan data tenaga kerja, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen positif bagi emas.
Di sisi lain, risiko geopolitik AS–Iran dan potensi meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz masih dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Pembelian emas oleh bank sentral juga menjadi faktor struktural yang mendukung prospek logam mulia dalam jangka panjang.
Secara teknikal, level US$4.400 menjadi area penting dalam jangka pendek, sedangkan US$4.500 menjadi level konfirmasi utama untuk membuka ruang kenaikan menuju US$4.650 hingga US$4.750 per ons troi. Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas US$4.375 dapat membuka ruang koreksi menuju US$4.350 hingga US$4.240 per ons troi.
Dengan demikian, emas masih memiliki sejumlah katalis positif untuk melanjutkan penguatan, tetapi investor tetap perlu mencermati respons pasar terhadap risalah The Fed dan perkembangan geopolitik sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Sumber Referensi:
CNBC Indonesia: Dolar Turun, Harga Emas Naik
CNBC Indonesia: Harga Emas Terbang, Rekor Tertinggi 2,5 Bulan: Dolar Jadi Bahan Bakar
Kontan Internasional: Emas Makin Berkilau, Naik 0,2% di Tengah Pelemahan Dolar AS
Kontan Internasional: Harga Emas Spot Naik Tiga Sesi Beruntun Selasa (18/8), Pasar Tunggu Risalah The Fed
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,635,600 |
5gr | Rp13,178,000 |
10gr | Rp26,356,000 |
25gr | Rp65,890,000 |
50gr | Rp131,780,000 |
100gr | Rp263,560,000 |
Bagikan Berita