22 Juni 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia kembali melemah pada awal pekan seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Selain itu, ketidakpastian hubungan AS dan Iran juga masih menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi logam mulia.
Berdasarkan data Commodity Exchange, harga emas untuk pengiriman Agustus 2026 pada Senin (22/6/2026) pukul 07.57 WIB berada di level US$4.194,10 per ons troi. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,22% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level US$4.245,90 per ons troi.
Mengutip Bloomberg, pelemahan harga emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran yang otomatis meningkatkan ketegangan di tengah berlangsungnya pembicaraan tingkat tinggi antara kedua negara.
Negosiasi antara AS dan Iran dilaporkan sempat terhambat setelah Iran menghentikan sementara pembahasan sebagai respons atas pernyataan Trump. Namun demikian, sejumlah sumber menyebutkan bahwa diskusi yang berlangsung di Swiss tersebut tetap berlanjut hingga Senin dini hari.
Tekanan beruntun ini membuat harga emas mencatat tren penurunan selama tiga pekan berturut-turut, sekaligus mengonfirmasi koreksi lebih dari 20% sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu.
Koreksi tajam ini terjadi setelah emas sempat menikmati reli signifikan sepanjang tahun 2025. Pada periode tersebut, harga logam mulia melonjak lebih dari 50%, sementara perak mencatat kenaikan lebih dari dua kali lipat.
Penguatan historis tersebut awalnya didorong oleh aksi pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia serta pelemahan indeks dolar AS, yang otomatis mendongkrak minat investor terhadap aset (safe haven).
Namun, arah angin pasar mulai berbalik setelah Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh, memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga demi meredam gejolak inflasi.
Catatan Redaksi: Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Oleh karena itu, ketika suku bunga acuan meningkat, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang menawarkan imbal hasil riil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah.
Kondisi inilah yang menjadi sentimen negatif bagi pergerakan emas dan perak. Sejumlah analis bahkan menilai karakter logam mulia saat ini bergerak lebih menyerupai aset berisiko, sehingga menjadi lebih rentan tertekan ketika sentimen pasar global memburuk.
Di tengah gelombang koreksi yang terjadi, investor sekaligus penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, mengaku belum kehilangan keyakinannya terhadap emas dan perak.
Kiyosaki menegaskan bahwa dirinya tidak berencana menjual kepemilikan asetnya saat harga jatuh. Sebaliknya, ia memilih menunggu momentum yang tepat untuk kembali menambah porsi portofolio investasinya.
Pandangan tersebut mencerminkan sisa keyakinan sebagian investor bahwa pelemahan harga saat ini hanyalah koreksi jangka pendek, bukan sebuah perubahan tren jangka panjang.
Di sisi lain, Goldman Sachs merevisi proyeksi harga emas untuk akhir 2026. Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut memangkas target harga emas sebesar US$500 per ons troi. Goldman kini memperkirakan harga emas berada di kisaran US$4.900 per ons troi pada akhir 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai US$5.400 per ons troi.
Revisi turun ini dilakukan akibat melonjaknya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dalam pertemuan pertamanya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh menunjukkan sikap yang lebih agresif dalam mengendalikan inflasi.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 87%, melesat dari proyeksi sebelumnya sebesar 61%.
Analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, menilai kenaikan suku bunga menjadi salah satu risiko terbesar bagi harga emas dalam jangka pendek.
Bahkan, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, Goldman memperkirakan harga emas berpotensi turun hingga mendekati level US$4.400 per ons troi pada akhir tahun.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran memang dapat membantu meredam risiko lonjakan harga energi dan inflasi global. Namun demikian, dampak tersebut dinilai masih lebih kecil jika dibandingkan dengan pengaruh kebijakan moneter The Fed terhadap pergerakan harga emas.
Menurut analis Sutopo, tekanan terhadap logam mulia muncul melalui dua jalur utama:
Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS: kondisi ini meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas yang tidak berimbal hasil.
Penguatan Dolar AS: Ekspektasi suku bunga tinggi membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global.
Untuk kuartal III 2026, Sutopo memproyeksikan harga emas global akan bergerak dalam rentang berikut:
Skenario Normal: Bergerak di rentang US$ 4.600 hingga US$ 4.850 per ons troi, dengan titik tengah proyeksi berada di sekitar US$ 4.700 per ons troi.
Skenario Bearish (Tren Turun): Harga emas berpotensi merosot ke kisaran US$ 4.250 hingga US$ 4.400 per ons troi. Skenario ini rawan terjadi jika tensi geopolitik mereda total dan dolar AS terus menguat.
Skenario Bullish (Tren Naik): Harga emas berpeluang kembali menguji level psikologis US$ 5.000 per ons troi. Target ini bisa tercapai jika muncul gejolak geopolitik baru atau angka inflasi melonjak di luar kendali.
Sebagai kesimpulan, pergerakan harga emas saat ini masih sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi pasar, sejumlah analis dan investor tetap menilai emas memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang, terutama sebagai pelindung nilai utama saat ketidakpastian ekonomi kembali meningkat.
Sumber Referensi:
Investasi.kontan: Sikap Hawkish The Fed Masih Menekan Harga Emas, Ini Proyeksi Kuartal III-2026
Investasi.kontan: Harga Emas Turun Senin (22/6) Pagi, Dipicu Ketegangan AS-Iran & Nada Hawhish The Fed
CNBC Indonesia: Cemas! Lembaga Dunia Mulai Pangkas Proyeksi Harga Emas & Perak
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,608,600 |
5gr | Rp13,043,000 |
10gr | Rp26,086,000 |
25gr | Rp65,215,000 |
50gr | Rp130,430,000 |
100gr | Rp260,860,000 |
Bagikan Berita