23 Juni 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Salat jenazah adalah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Ketika seorang muslim meninggal dunia, kaum muslimin yang masih hidup dianjurkan untuk mengurus jenazahnya mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkannya.
Berbeda dengan salat wajib pada umumnya, salat jenazah memiliki tata cara khusus. Tidak terdapat ruku, sujud, maupun tahiyat. Seluruh rangkaian ibadah dilakukan dalam posisi berdiri dengan empat kali takbir yang disertai bacaan doa tertentu.
Meskipun sering dilaksanakan di masjid atau musala, masih banyak umat Islam yang belum memahami tata cara salat jenazah secara benar.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui syarat, rukun, bacaan, serta urutan pelaksanaannya agar ibadah ini dapat dilakukan sesuai tuntunan syariat. Ketahui simak panduan lengkap salat jenazah berikut ini!
Salat jenazah memiliki hukum fardu kifayah, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada komunitas muslim secara kolektif.
Artinya, apabila sudah ada sebagian umat Islam yang melaksanakan salat jenazah, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Namun, apabila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, seluruh muslim di lingkungan tersebut dapat menanggung dosa karena meninggalkan kewajiban bersama.
Karena itulah, menghadiri dan menyalatkan jenazah menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial sekaligus penghormatan terakhir kepada sesama muslim.
Sebelum melaksanakan salat jenazah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah.
Secara umum, syarat sah salat jenazah hampir sama dengan syarat sah salat wajib, ditambah beberapa ketentuan yang berkaitan dengan jenazah yang akan disalatkan. Berikut ini penjelasannya:
Orang yang menyalatkan jenazah wajib berada dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar. Oleh karena itu, seseorang harus berwudu terlebih dahulu apabila berhadas kecil atau mandi wajib apabila berhadas besar.
Selain itu, pakaian, badan, dan tempat yang digunakan untuk salat harus terbebas dari najis. Ketentuan ini berlaku sebagaimana syarat sah salat pada umumnya.
Orang yang melaksanakan salat jenazah wajib menutup aurat sesuai ketentuan syariat Islam. Bagi laki-laki, aurat yang harus ditutup adalah antara pusar hingga lutut.
Sementara bagi perempuan, seluruh tubuh merupakan aurat kecuali wajah dan telapak tangan menurut pendapat mayoritas ulama.
Imam dan makmum harus menghadap ke arah kiblat selama pelaksanaan salat jenazah. Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sah salat yang tidak boleh ditinggalkan kecuali dalam kondisi tertentu yang dibenarkan syariat.
Jenazah yang akan disalatkan harus telah dimandikan dan dikafani terlebih dahulu sesuai tata cara yang diajarkan dalam Islam. Hal ini merupakan bagian dari penghormatan terakhir kepada jenazah sebelum dimakamkan.
Namun, terdapat beberapa pengecualian dalam kondisi tertentu, seperti jenazah syahid yang gugur di medan perang yang memiliki ketentuan khusus dalam pengurusannya.
Jenazah harus berada di depan imam dan makmum saat salat dilaksanakan. Posisi ini menjadi salah satu syarat penting karena salat jenazah merupakan doa yang secara khusus ditujukan kepada orang yang meninggal dunia.
Apabila jenazah tidak berada di hadapan jamaah, maka pelaksanaannya memiliki ketentuan tersendiri yang dikenal sebagai salat gaib.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa salat jenazah hanya diperuntukkan bagi muslim yang telah meninggal dunia. Hal ini karena tujuan utama salat jenazah adalah memohonkan ampunan, rahmat, dan kebaikan bagi sesama muslim yang telah wafat.
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah posisi imam saat memimpin salat jenazah. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW dan telah menjadi pedoman yang digunakan oleh para ulama.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri di dekat kepala jenazah laki-laki dan di bagian tengah tubuh jenazah perempuan ketika menyalatkannya.
Agar lebih jelas, ini dia penjelasanya:
Apabila jenazah yang disalatkan adalah laki-laki, imam dianjurkan berdiri sejajar dengan bagian kepala jenazah.
Posisi ini mengikuti praktik yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan menjadi pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama.
Apabila jenazah yang disalatkan adalah perempuan, imam berdiri sejajar dengan bagian tengah tubuh, yaitu sekitar perut atau pusar jenazah.
Posisi ini juga berdasarkan hadis yang menjelaskan tata cara Rasulullah SAW ketika menyalatkan jenazah perempuan.
Sementara itu, para makmum berdiri di belakang imam dengan membentuk saf sebagaimana salat berjamaah pada umumnya.
Bahkan, para ulama menganjurkan agar jamaah membentuk tiga saf atau lebih apabila jumlah peserta salat memungkinkan. Anjuran ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:
"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu disalatkan oleh tiga saf kaum muslimin, melainkan ia akan diampuni." (HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan salat jenazah yang dilakukan secara berjamaah serta pentingnya memperbanyak kaum muslimin yang turut mendoakan jenazah.
Salat jenazah sangat berbeda dengan salat biasa karena tidak ada ruku, iktidal, sujud, maupun tahiyat. Semuanya dilakukan dalam keadaan berdiri yang diselingi dengan 4 kali takbir.
Berikut ini tata caranya:
Niat merupakan bagian penting dalam setiap ibadah. Niat salat jenazah dilakukan di dalam hati, meskipun sebagian ulama membolehkan untuk melafalkannya.
Niat Salat Jenazah Laki-Laki
أُصَلَّى عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli 'alaa haadzal mayyiti arba'a takbiiraatin fardha kifayaatin imaaman/ma'muuman lillahi Ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat salat atas jenazah laki-laki ini empat takbir, fardu kifayah, sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
Niat Salat Jenazah Perempuan
أُصَلَّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli 'alaa haadzihil mayyitati arba'a takbiiraatin fardha kifayaatin imaaman/ma'muuman lillahi Ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat salat atas jenazah perempuan ini empat takbir, fardu kifayah sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
Setelah niat dan takbiratul ihram, jamaah membaca Surah Al-Fatihah.
Berbeda dengan salat wajib, pada salat jenazah tidak dianjurkan membaca doa iftitah, melainkan langsung membaca Ta'awudz, Basmalah, lalu membaca Surah Al-Fatihah secara utuh.
Setelah membaca Al-Fatihah, imam mengucapkan takbir kedua.
Pada tahap ini jamaah membaca Salawat Ibrahimiyah sebagaimana yang dibaca saat tahiyat akhir dalam salat wajib.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa shallaita 'alaa Ibraahiim wa 'alaa aali Ibraahiim, wa baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa baarakta 'alaa Ibraahiim wa 'alaa aali Ibraahiim fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.
Setelah takbir ketiga, jamaah membaca doa khusus untuk jenazah.
Untuk jenazah laki-laki:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia."
Untuk jenazah perempuan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Allahummaghfirlaha warhamha wa 'aafiha wa'fu 'anha.
Setelah takbir keempat, dibaca doa penutup untuk jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.
Untuk jenazah laki-laki:
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa walahu.
Artinya:
"Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau beri kami cobaan setelah kepergiannya, dan ampunilah kami serta dirinya."
Untuk jenazah perempuan:
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا
Allahumma laa tahrimnaa ajraha wa laa taftinnaa ba'daha waghfirlanaa walaha.
Salat jenazah diakhiri dengan salam seperti salat pada umumnya.
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Salat jenazah memiliki banyak keutamaan bagi yang melaksanakannya, diantaranya:
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa orang yang menyalatkan jenazah akan memperoleh pahala yang besar. Bahkan pahala tersebut semakin bertambah apabila seseorang turut mengantarkan hingga proses pemakaman selesai.
Salat jenazah mencerminkan ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap sesama muslim hingga akhir hayatnya.
Inti dari salat jenazah adalah memohonkan ampunan dan rahmat Allah SWT bagi orang yang telah meninggal dunia.
Salat jenazah merupakan ibadah fardu kifayah yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat besar dalam Islam. Melalui salat ini, umat Islam mendoakan saudara yang telah meninggal dunia sekaligus mengingat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Selain mendoakan mereka yang telah berpulang, kita juga dapat melanjutkan kebaikan melalui sedekah, infak, maupun donasi yang bermanfaat bagi sesama.
Kini, aktivitas donasi dan amal dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui layanan Donasi dan Amal dari Bank Mega Syariah.
Melalui aplikasi M-Syariah, Anda dapat menyalurkan berbagai bentuk kebaikan secara praktis, aman, dan sesuai prinsip syariah. Yuk, jadikan setiap kesempatan berbagi sebagai amal jariyah yang terus mengalir bersama layanan Donasi dan Amal M-Syariah.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
Bagikan Berita