9 Mei 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat istimewa dan penuh dengan keberkahan bagi umat Islam. Pada periode ini, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Meningkatkan kualitas ibadah di hari-hari mulia ini menjadi wujud rasa syukur atas kesempatan hidup dan kesehatan yang masih diberikan. Berbagai amalan sunnah dapat dilakukan untuk meraih keberkahan maksimal sebelum memasuki puncak hari raya kurban yang suci.
Apakah Anda ingin mengetahui salah satu amalan penting yang sering dilakukan oleh umat muslim di seluruh dunia sebelum merayakan Idul Adha? Yuk simak ulasan lengkap mengenai pengertian, hukum, hingga tata cara pelaksanaannya berikut ini agar Anda dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Secara bahasa, kata "Tarwiyah" berasal dari istilah Arab tarawwa yang memiliki arti membawa air atau merenung. Nama ini melekat pada ibadah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, karena pada hari tersebut terdapat peristiwa sejarah yang besar bagi jemaah haji maupun nabi pendahulu kita.
Ditinjau dari sisi historis, hari ini disebut Tarwiyah karena para jemaah haji di masa lalu membawa persediaan air yang cukup untuk dibawa menuju Mina dan Padang Arafah. Air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama prosesi wukuf berlangsung agar kondisi fisik tetap terjaga.
Selain itu, nama ini juga dikaitkan dengan momen saat Nabi Ibrahim AS mulai merenungkan dan memikirkan kebenaran wahyu melalui mimpi mengenai perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Melaksanakan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Keberadaan puasa ini di antara hari-hari mulia bulan Dzulhijjah memberikan nilai keutamaan yang luar biasa bagi siapa saja yang menjalankannya:
Sebagian ulama berpendapat bahwa menjalankan puasa pada hari Tarwiyah merupakan bentuk fadhilah amal yang dapat menjadi wasilah dihapuskannya dosa-dosa setahun yang lalu. Meskipun terdapat diskusi mengenai derajat hadisnya, niat tulus untuk beribadah di hari mulia ini tetap menjadi ladang pahala yang sangat besar bagi setiap muslim.
Peluang untuk membersihkan diri dari khilaf dan dosa di masa lalu tentu menjadi motivasi spiritual yang sangat berharga bagi setiap hamba. Dengan menjalankan puasa ini, kita berharap dapat menyambut Hari Raya Idul Adha dalam kondisi hati yang lebih suci dan tenang.
Mengingat posisi puasa ini berada di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka amalannya termasuk dalam kategori ibadah yang paling dicintai Allah SWT melebihi jihad di jalan-Nya. Setiap detik yang dihabiskan dalam kondisi berpuasa di waktu istimewa ini memiliki bobot nilai yang jauh lebih berat di timbangan amal akhirat.
Melalui puasa, seorang hamba menunjukkan kesungguhan yang nyata dalam membersihkan jiwa dan raga sebelum menyambut puncak hari raya kurban. Keutamaan waktu ini merupakan anugerah besar bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih rida Sang Pencipta.
Niat merupakan rukun fundamental yang membedakan aktivitas menahan lapar biasa dengan ibadah puasa yang berpahala. Anda dapat menghadirkan niat di dalam hati sejak malam hari atau melafalkannya sebelum fajar tiba untuk memperkuat tekad ibadah Anda.
Berikut adalah bacaan niat puasa Tarwiyah:
"Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta'ala."
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."
Adapun tata cara pelaksanaannya, Secara teknis tidak berbeda dengan puasa sunnah maupun wajib pada umumnya. Berikut adalah urutan pelaksanaannya:
Dimulai sejak terbit fajar (waktu Subuh) dan berakhir tepat saat matahari terbenam (waktu Magrib).
Disunnahkan untuk melakukan sahur di akhir waktu guna menjaga energi dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Selama berpuasa, umat Islam diwajibkan menjauhkan diri dari segala hal yang membatalkan puasa serta menjaga lisan dan perbuatan agar pahala puasa tetap sempurna.
Penting bagi kita untuk memperhatikan urutan ibadah agar mendapatkan keutamaan yang lebih sempurna di bulan haji ini. Puasa Tarwiyah yang jatuh pada 8 Dzulhijjah sebaiknya dilanjutkan dengan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah agar perolehan pahalanya lebih maksimal.
Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, Puasa Tarwiyah pada tahun 2026 diperkirakan akan jatuh pada hari Senin, 15 Juni 2026. Namun, pastikan Anda tetap mengikuti pengumuman resmi dari otoritas agama setempat mengenai penetapan awal bulan Dzulhijjah melalui sidang isbat.
Menjalankan berbagai amalan utama di hari raya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan waktu yang tepat untuk meningkatkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah SWT. Mengisi hari-hari istimewa Idul Adha ini dengan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah, salat, serta doa akan memberikan kedekatan spiritual bagi setiap muslim yang ingin meraih rida serta ampunan-Nya.
Selain melaksanakan ibadah puasa dan menikmati hidangan yang halal bersama keluarga nantinya, menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah di momen ini menjadi wujud syukur yang sempurna. Kebaikan yang Anda tabung sejak hari-hari awal Dzulhijjah akan mendatangkan pertolongan Allah SWT serta pahala yang terus mengalir, melengkapi kebahagiaan spiritual yang Anda dapatkan.
Sebagai bentuk dukungan untuk memudahkan ibadah sosial Anda di mana saja, Bank Mega Syariah menyediakan fitur Donasi dan Amal yang dapat diakses melalui aplikasi M-Syariah. Melalui layanan ini, Anda dapat menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah secara praktis dan transparan langsung dari genggaman, sehingga ibadah Anda tetap produktif dalam mengumpulkan pahala selama bulan haji.
Segera unduh aplikasi M-Syariah dan jadikan setiap momen ibadah serta berbagi Anda lebih bermakna dengan kemudahan yang sesuai prinsip syariah. Dengan M-Syariah, rutinitas berbagi menjadi lebih ringan dan tenang, memastikan langkah ibadah Anda senantiasa dipenuhi keberkahan serta rida dari Allah SWT.
Bagikan Berita