13 April 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini memicu ekspektasi bahwa harga logam mulia berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat, seiring meningkatnya risiko konflik di kawasan Timur Tengah.
Gagalnya diplomasi antara Washington dan Teheran menambah ketidakpastian di pasar global. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa dalam jeda dua minggu ke depan, Amerika Serikat, Israel, maupun Iran diperkirakan akan fokus melakukan konsolidasi kekuatan masing-masing.
Sepanjang pekan depan, pergerakan harga emas diprediksi masih sangat volatil. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sentimen geopolitik serta arah kebijakan moneter global yang dinamis.
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada seberapa kuat sentimen aset lindung nilai (safe haven) bertahan. Jika terjadi koreksi teknis, Ibrahim memproyeksikan:
Support pertama: Emas dunia berada di level US$4.638 per troy ons, dengan estimasi harga domestik sekitar Rp2.840.000 per gram.
Support kedua: Jika tekanan jual berlanjut, level bawah berikutnya diperkirakan berada di US$4.358 per troy ons, atau sekitar Rp2.780.000 per gram di dalam negeri.
Namun, apabila harga justru bergerak menguat (rebound), maka:
Resistance Pertama: Emas dunia diperkirakan tertahan di level US$4.897 per troy ons, dengan harga logam mulia sekitar Rp2.880.000 per gram.
Momentum Bullish: Jika tren penguatan berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$5.000. Target penguatan berikutnya berada di US$5.138 per troy ons, yang dapat mengerek harga logam mulia domestik hingga Rp3.100.000 per gram.
Lembaga keuangan global, Goldman Sachs, tetap mempertahankan proyeksi optimistis mereka terhadap emas di level US$5.400 per troy ons. Perkiraan ini didukung oleh aksi beli bank sentral yang konsisten serta ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 50 basis poin pada tahun ini.
Meski demikian, analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, memberikan catatan bahwa emas masih menghadapi risiko penurunan taktis jangka pendek, terutama jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, emas kembali membuktikan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman saat risiko geopolitik dan inflasi meningkat.
Ibrahim menegaskan adanya kemungkinan besar harga logam mulia akan menyentuh angka Rp3.100.000 per gram. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa emas masih memiliki ruang penguatan signifikan selama ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel belum menemui titik terang melalui jalur diplomatik.
Sumber Referensi:
Investasi.kontan: Perundingan AS–Iran Gagal, Harga Emas Berpotensi Tembus Rp 3,1 Juta per Gram
Investor.id: Harga Emas Bisa Terbang Tinggi ke Titik Ini
Bagikan Berita