13 Juli 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Prospek harga emas dunia dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian. Di satu sisi, logam mulia mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven.
Namun di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta sikap hawkish Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve atau The Fed) masih menjadi faktor yang membatasi penguatan harga emas.
Berdasarkan data Refinitiv, pada Senin (13/7/2026) pukul 06.37 WIB, harga emas berada di level US$4.069,26 per ons troi, atau melemah 1,23% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), harga emas berada di posisi US$4.120,08 per ons troi, turun tipis sebesar 0,03%.
Secara mingguan, harga emas terkoreksi 1,31%, setelah sempat mencatat kenaikan sebesar 2,12% pada pekan lalu.
Pada awal pekan lalu, harga emas sempat menembus level US$4.200 per ons troi setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Namun, reli tersebut tidak berlangsung lama. Harga emas kembali melemah setelah pelaku pasar mencermati risalah rapat The Fed. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Risalah tersebut juga memperlihatkan bahwa perhatian The Fed kini lebih tertuju pada pengendalian inflasi, sementara kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja mulai berkurang.
Catatan Redaksi: Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan pendapatan tetap seperti obligasi.
Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjaga permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi. Namun, kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat memicu kenaikan harga energi justru berpotensi mempertahankan inflasi pada level tinggi. Hal ini memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pelaku pasar masih memiliki pandangan yang beragam terhadap prospek harga emas:
Sebagian analis memperkirakan harga emas masih memiliki peluang untuk menguat apabila ketidakpastian geopolitik meningkat.
Sebagian lainnya menilai harga emas akan bergerak mendatar
Kelompok analis lain memperkirakan tekanan masih akan berlanjut akibat penguatan dolar AS dan kebijakan moneter yang ketat.
Meskipun pandangan analis terbelah, mayoritas investor ritel masih menunjukkan optimisme. Bagi investor, emas tidak hanya dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap konflik geopolitik, tetapi juga sebagai aset diversifikasi portofolio yang mampu menjaga nilai investasi dalam jangka panjang.
Sejumlah bank investasi internasional mulai menyesuaikan proyeksi harga emas untuk jangka pendek seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi, penguatan dolar AS, dan tingginya harga energi.
Bank of America memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$4.360 per ons troi. Meski demikian, BofA tetap meyakini harga emas masih berpotensi mencapai US$5.000 per ons troi setelah siklus pengetatan suku bunga The Fed berakhir.
JPMorgan memperkirakan harga emas rata-rata berada di kisaran:
Kuartal III 2026: US$4.300 per ons troi
Kuartal III 2026: US$4.500 per ons troi
Secara keseluruhan, JPMorgan menetapkan target rata-rata harga emas di sekitar US$4.545 per ons troi.
Konsensus analis LBMA memproyeksikan harga emas rata-rata sepanjang 2026 berada di kisaran US$4.742 per ons troi. Namun, rentang proyeksi para analis masih cukup lebar, yaitu antara US$4.000 hingga US$6.050 per ons troi, mencerminkan tingginya ketidakpastian kondisi ekonomi global.
HSBC juga merevisi proyeksi harga emas menjadi rata-rata US$4.560 per ons troi sepanjang 2026. Penyesuaian ini mempertimbangkan dampak penguatan dolar AS serta kebijakan moneter global yang diperkirakan masih relatif ketat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pergerakan harga emas pada pekan ini diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan dolar AS dan harga minyak dunia.
Meskipun beberapa lembaga merevisi turun proyeksi jangka pendek, logam mulia ini masih memiliki prospek yang baik sebagai instrumen lindung nilai jika ketidakpastian global kembali meningkat. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi serta kebijakan bank sentral sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi.
Sumber Referensi:
CNBC Indonesia: Prospek Harga Emas Berubah, Ini Ramalan Terbaru dari 4 Lembaga Dunia
Bloomberg Technoz: Harga Emas Turun Usai Serangan AS-Iran Picu Spekulasi Suku Bunga
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,575,600 |
5gr | Rp12,878,000 |
10gr | Rp25,756,000 |
25gr | Rp64,390,000 |
50gr | Rp128,780,000 |
100gr | Rp257,560,000 |
Bagikan Berita