4 Mei 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia dibuka melemah pada awal pekan ini, Senin (4/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, para pelaku pasar masih menanti perkembangan terbaru dari negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot tercatat turun 0,3% ke angka US$4.599,45 per ons troi pada pukul 01.14 GMT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turut melemah 0,7% ke level US$4.611,40 per ons troi.
Ketegangan di Timur Tengah menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pemerintah AS akan memulai upaya pembebasan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Langkah ini diklaim sebagai “isyarat kemanusiaan” bagi negara-negara netral di tengah konflik AS–Israel dengan Iran.
Menanggapi situasi tersebut, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pihak Washington telah menyampaikan respons terhadap proposal 14 poin dari Teheran melalui perantara Pakistan. Saat ini, dokumen tersebut dikabarkan masih dalam tahap peninjauan oleh pihak Iran.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak global turut menjadi beban bagi pergerakan emas. Kondisi ini berpotensi memicu bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Perlu diingat bahwa lingkungan suku bunga tinggi cenderung kurang menguntungkan bagi emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil (yield). Daya tarik emas memudar saat investor beralih ke instrumen lain seperti obligasi pemerintah yang menawarkan imbal balik lebih kompetitif.
Pekan lalu, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya sembari memberikan sinyal hawkish. Hal ini secara otomatis menggerus ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, memperingatkan bahwa konflik Iran-Israel berpotensi memperpanjang tekanan inflasi sekaligus meningkatkan risiko perlambatan ekonomi. Situasi dilematis ini memaksa bank sentral untuk lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan ke depan.
Data terbaru menunjukkan inflasi Amerika Serikat kembali memanas pada Maret. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,7%—kenaikan bulanan terbesar sejak Juni 2022. Lonjakan ini utamanya didorong oleh meroketnya harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Senada dengan Kashkari, Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai data inflasi tersebut sebagai sinyal negatif bagi bank sentral. Ia menekankan bahwa The Fed perlu bersikap hati-hati sebelum memutuskan penurunan suku bunga.
Meski ditekan berbagai sentimen negatif, minat investor terhadap emas sebenarnya belum padam. Data menunjukkan spekulan justru meningkatkan posisi beli bersih (net long) sebesar 3.924 kontrak, sehingga totalnya menjadi 91.574 kontrak pada pekan yang berakhir 28 April.
Berikut adalah perkembangan harga logam mulia lainnya:
Dari sisi teknikal, analis pasar Fawad Razaqzada menyebutkan bahwa harga emas saat ini tengah menguji area resistansi penting di kisaran US$4.660 per ons troi. Area ini sebelumnya berfungsi sebagai support kuat sebelum akhirnya ditembus oleh tekanan jual pekan lalu.
Selama harga belum mampu kembali ke atas level tersebut, pergerakan emas dalam jangka pendek diprediksi masih akan melemah. Munculnya pola lower highs memberikan indikasi adanya bias bearish (tren menurun) yang ringan.
Namun demikian, tekanan jual sejauh ini dinilai belum terlalu agresif. Harga emas diprediksi akan bergerak dalam fase konsolidasi atau sideways , terutama selama ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz masih tinggi.
Level support (batas bawah) yang perlu diperhatikan investor saat ini berada di kisaran:
Pelaku pasar juga cenderung menahan posisi menjelang akhir pekan lalu, mengingat tingginya ketidakpastian terkait konflik AS–Iran, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Sebagai kesimpulan, arah harga emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS terbaru, seperti data pesanan pabrik, serta dinamika kebijakan suku bunga global dan tensi geopolitik di Timur Tengah.
Sumber Referensi:
- Internasional.Kontan: Harga Emas Turun Imbas Kekhawatiran Inflasi, Pasar Cermati Perundingan AS-Iran
- Investor.id: Harga Emas Tertekan Sentimen Ganda di Awal Pekan
- Investor.id: Harga Emas di Ujung Tanduk, Nasibnya Ditentukan Negosiasi AS dan Iran
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Bagikan Berita