10 Agustus 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia kembali menguat dan bergerak di sekitar level US$4.300 per ons troi. Meski volatilitas masih tinggi, prospek logam mulia tetap mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas berada di level US$4.310,25 per ons troi, atau naik 1,66%. Secara mingguan, harga emas melonjak 6,58% dan menguat 5,73% dalam sebulan terakhir. Sementara itu, secara year-to-date (YTD), harga emas masih terkoreksi tipis sebesar 0,25%. Namun secara year-on-year (YoY), harga emas telah mencatat kenaikan sebesar 26,77%.
Pergerakan tersebut mencerminkan penyesuaian pasar terhadap ketidakpastian makroekonomi global serta ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve atau The Fed).
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang menopang permintaan emas sebagai aset safe haven. Kondisi tersebut membantu menjaga harga emas tetap berada di atas level US$4.200 per ons troi dan mendekati US$4.300 per ons troi.
Namun, arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan ekonomi Amerika Serikat. “Dalam waktu dekat, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat,” ungkap Amru kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
Apabila data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menurun. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi harga emas. Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali menguat dan membatasi ruang kenaikan harga emas.
Catatan Redaksi: NFP merupakan salah satu indikator penting kondisi pasar tenaga kerja AS. Data yang kuat dapat meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi, sedangkan data yang melemah dapat memperkuat harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Perubahan ekspektasi tersebut dapat mempengaruhi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti hubungan antara pergerakan harga emas dan harga komoditas energi. Menurut Lukman, harga emas masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik Timur Tengah dan stabilitas harga minyak mentah dunia.
“Harga emas bisa kembali naik apabila harga minyak dunia sudah stabil di bawah US$80,” kata Lukman.
Apabila harga minyak belum mampu turun di bawah level tersebut, emas diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang US$4.000 hingga US$4.400 per ons troi. Dengan harga emas yang telah mendekati US$4.300 per ons troi, investor dinilai perlu lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru melakukan pembelian secara agresif.
Selain pergerakan emas dunia, harga emas domestik juga menjadi perhatian investor di tengah penguatan harga logam mulia global. Berdasarkan data yang dikutip Investor.id, harga emas Antam pada Sabtu (8/8/2026) naik Rp40.000 menjadi Rp2.690.000 per gram.
Harga tersebut masih berada sekitar 15,08% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebesar Rp3.168.000 per gram yang tercatat pada 29 Januari 2026. Namun, jika dibandingkan dengan posisi awal 2026, harga emas Antam masih mencatat kenaikan sekitar 8,11%, dari Rp2.488.000 menjadi Rp2.690.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback emas Antam juga meningkat Rp50.000 menjadi Rp2.511.000 per gram. Untuk perdagangan Senin (10/8/2026), Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam berada di sekitar Rp2.670.000 per gram, dengan level resistance di kisaran Rp2.710.000 per gram.
Pergerakan harga emas domestik tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga emas global turut memberikan pengaruh terhadap pasar emas dalam negeri, meskipun harga Antam tetap dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah, kondisi permintaan domestik, serta faktor pembentukan harga di pasar lokal.
Kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari perubahan ekspektasi terhadap kondisi makro ekonomi global dan dinamika geopolitik.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa harga emas (XAU/USD) sebelumnya sempat terkoreksi dari level tertingginya akibat perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed yang cenderung lebih ketat. Menurut Wahyu, dalam jangka pendek harga emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat di kisaran US$4.000 hingga US$4.300 per ons troi.
Untuk saat ini, ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed masih menjadi salah satu faktor dominan yang menentukan pergerakan harga emas. Wahyu menyarankan investor menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) atau melakukan akumulasi secara bertahap ketika harga mengalami koreksi (buy on weakness). Ia juga menyarankan alokasi emas sekitar 5% hingga 15% dari portofolio sebagai instrumen lindung nilai.
Catatan Redaksi: Strategi DCA dilakukan dengan membeli aset secara berkala dalam jumlah tertentu tanpa terlalu bergantung pada pergerakan harga jangka pendek. Strategi ini dapat membantu investor mengurangi risiko membeli dalam jumlah besar pada satu level harga.
Memasuki paruh kedua 2026, harga emas diproyeksikan masih memiliki peluang untuk menembus resistance jangka menengah di kisaran US$4.500 hingga US$4.800 per ons troi apabila momentum penguatan tetap terjaga.
Dalam jangka panjang hingga akhir tahun, Wahyu memperkirakan emas memiliki peluang mencetak rekor tertinggi baru. “Target akhir tahun testing high dan bahkan potensial mencetak rekor tertinggi baru di area US$5.000-US$6.000,” ujar Wahyu.
Sebagai kesimpulan, pergerakan harga emas pada pekan ini masih akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, harga minyak mentah, data ekonomi Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Dalam jangka pendek, harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan rentang sekitar US$4.000 hingga US$4.400 per ons troi. Stabilnya harga minyak dan meredanya tekanan terhadap inflasi dapat memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan penguatan.
Di pasar domestik, harga emas Antam juga masih menunjukkan penguatan dibandingkan awal tahun, meskipun belum kembali ke rekor tertingginya. Perkiraan level Rp2.670.000 hingga Rp2.710.000 per gram menjadi area yang perlu diperhatikan untuk perdagangan pekan ini.
Sementara itu, dalam jangka menengah hingga panjang, permintaan safe haven, ketidakpastian geopolitik, serta potensi perubahan arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi faktor yang dapat mendukung harga emas.
Dengan demikian, meskipun volatilitas tetap perlu diwaspadai, prospek emas hingga akhir 2026 masih dinilai positif dengan peluang menguji level US$5.000 hingga US$6.000 per ons troi apabila momentum kenaikan berlanjut.
Sumber Referensi:
Investasi Kontan: Harga Emas Menuju US$ 4.800, Simak Proyeksinya Hingga Akhir Tahun
Investasi Kontan: Harga Emas Rebound ke US$ 4.300, Analis Proyeksikan US$ 6.000 di Akhir 2026
Investor.id: Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Senin 10 Agustus 2026
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2,630,600 |
5gr | Rp13,153,000 |
10gr | Rp26,306,000 |
25gr | Rp65,765,000 |
50gr | Rp131,530,000 |
100gr | Rp263,060,000 |
Bagikan Berita