24 Agustus 2026 | Tim Bank Mega Syariah

Harga emas dunia mencatat penguatan signifikan pada pekan lalu dengan kenaikan lebih dari 5%. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong reli logam mulia, sementara meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global turut menjaga daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Pelemahan dolar AS menjadikan emas lebih murah bagi investor dengan mata uang lain, sehingga mendorong harga logam mulia ini menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pasar. Menteri Luar Negeri Iran menepis ancaman sanksi baru dari Amerika Serikat dan menyebut langkah tersebut sebagai tanda keputusasaan. Pemerintah Iran juga menilai sanksi baru tidak akan berhasil mengubah sikap Teheran.
Ketidakpastian tersebut berpotensi mempertahankan permintaan emas sebagai aset safe haven, terutama apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat. Sementara itu, dari sisi perdagangan global, Kanada juga bersiap mengenakan tarif terhadap sejumlah barang AS sebagai respons atas tarif sebesar 50% yang sebelumnya diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk-produk Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan langkah tersebut setelah pembicaraan perdagangan antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan.
Catatan Redaksi: Ketegangan geopolitik dan perang dagang dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Dalam kondisi tersebut, investor biasanya meningkatkan diversifikasi aset, salah satunya melalui emas yang secara historis dipandang sebagai instrumen lindung nilai.
Berdasarkan survei mingguan Kitco News, mayoritas analis Wall Street memperkirakan harga emas kembali menguat setelah berhasil menembus sejumlah level resistance penting.
Dari 11 analis yang berpartisipasi, sebanyak 8 analis atau 73% memperkirakan harga emas akan naik. Sementara 3 analis atau 27% memperkirakan harga emas bergerak sideways. Tidak ada analis yang memproyeksikan penurunan harga emas pada pekan ini.
Optimisme juga terlihat dari kalangan investor ritel. Dari 211 responden dalam jajak pendapat Kitco, sebanyak 164 investor atau 78% memperkirakan harga emas akan menguat. Sebanyak 25 investor atau 12% memperkirakan harga emas turun, sementara 22 investor atau 10% memproyeksikan pergerakan sideways. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap emas masih relatif kuat setelah reli lebih dari 5% pada pekan sebelumnya.
Meskipun sentimen pasar masih bullish, pergerakan emas pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Kalender ekonomi AS akan dipenuhi sejumlah indikator penting, mulai dari kepercayaan konsumen, pasar perumahan, inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi.
Pada Selasa (25/8/2026), pasar akan mencermati rilis Consumer Confidence Index dari Conference Board serta data penjualan rumah baru untuk Juli. Selanjutnya, Rabu (26/8/2026) menjadi salah satu hari terpenting dengan agenda rilis Core PCE Price Index, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2026, serta Durable Goods Orders.
Pada Kamis (27/8/2026), perhatian pasar beralih ke data klaim pengangguran mingguan AS yang dapat memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja. Sementara itu, agenda yang paling dinantikan akan berlangsung pada Jumat (28/8/2026) ketika Ketua The Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, menyampaikan pidato perdananya dalam simposium Jackson Hole.
Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS serta kemungkinan waktu perubahan suku bunga berikutnya.
Catatan Redaksi: Data inflasi dan pasar tenaga kerja menjadi indikator penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Data yang menunjukkan tekanan inflasi mereda atau kondisi ekonomi melemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran moneter dan menjadi sentimen positif bagi emas. Sebaliknya, data ekonomi yang kuat dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan membatasi kenaikan harga emas.
Dari sisi teknikal, harga emas dalam perspektif mingguan masih berada dalam zona bullish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level sekitar 58. RSI di atas 50 umumnya menunjukkan momentum kenaikan masih lebih dominan.
Namun, indikator Stochastic RSI 14 hari telah mencapai level 100, yang menunjukkan kondisi sangat jenuh beli (overbought). Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa meskipun tren utama masih positif, harga emas memiliki risiko mengalami koreksi teknikal setelah mencatat kenaikan cukup tajam dalam satu pekan.
Level US$4.520 per ons troi menjadi pivot point yang perlu diperhatikan investor. Apabila harga bergerak melemah dari level tersebut, area support yang perlu dicermati berada di kisaran:
Sebaliknya, apabila momentum penguatan masih berlanjut, resistance awal berada di sekitar:
Jika level tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju:
Catatan Redaksi: Kondisi overbought tidak selalu berarti harga harus segera turun. Indikator tersebut menunjukkan bahwa harga telah mengalami kenaikan yang cukup kuat sehingga risiko koreksi meningkat. Tren bullish masih dapat berlanjut apabila didukung fundamental dan momentum pasar yang kuat.
Harga emas memasuki pekan ini dengan momentum yang cukup kuat setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% pada pekan sebelumnya dan mencapai level tertinggi dalam sekitar tiga bulan.
Pelemahan dolar AS, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta konflik perdagangan global masih menjadi faktor pendukung harga emas. Sentimen pasar juga relatif positif, tercermin dari mayoritas analis Wall Street dan investor ritel yang memperkirakan harga emas kembali menguat.
Namun, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi karena indikator teknikal menunjukkan kondisi overbought. Selain itu, sejumlah data ekonomi penting AS dan pidato Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan arah emas selanjutnya.
Secara teknikal, US$4.520 per ons troi menjadi pivot point penting. Jika harga mampu mempertahankan momentum dan menembus US$4.632, peluang menuju US$4.716 hingga US$5.086 semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila terjadi koreksi dan harga menembus area support US$4.464, emas berpotensi menguji level yang lebih rendah. Dengan demikian, meskipun prospek emas pekan ini masih cenderung positif, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas dan potensi aksi ambil untung setelah reli yang cukup tajam.
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Sumber Referensi:
IDX Channel: Proyeksi Harga Emas Sepekan Analis Prediksi Kenaikan Berlanjut
Bloombergtechnoz: Prediksi Harga Emas Minggu Ini Usai Pekan Lalu Melesat Nyaris 6%
Kontan Internasional: Emas Makin Berkilau Capai Level Tertinggi dalam 3 Bulan di Pagi Ini
Disclaimer: This information does not give a promise or guarantee of future events, and can’t be used as the basis of a contract, agreement, or commitment of any kind and/or with Bank Mega Syariah to third parties.
Berat (Gramasi) | Harga |
1gr | Rp2.690.600 |
5gr | Rp13.453.000 |
10gr | Rp29.906.000 |
25gr | Rp67.265.000 |
50gr | Rp134.530.000 |
100gr | Rp269.060.000 |
Bagikan Berita